Selasa, 10 Mei 2011

Menjadi Murid Yang Sukses


Sekolah dengan tahun ajaran baru sudah dimulai. Itu artinya kita harus mulai untuk rajin belajar lagi agar kita dapat melewati tahun ini dengan baik. Nah, agar kalian dapat menjadi seorang murid yang sukses melewati tahun ajaran ini, tips-tips dibawah ini mudah-mudahan dapat membantu:
1. Usahakan untuk masuk sekolah setiap hari.
Kadang kita merasa malas untuk bangun pagi, apalagi kalau di hari Senin. Aduh, rasanya masih mengantuk sekali. Akhirnya kita berpikir untuk mencari alasan agar tidak masuk sekolah. Untuk mengejar ketinggalan, kalian meminjam catatan dari temanmu. Eit, tunggu dulu, dengan meminjam catatan dari teman bukan berarti kalian dapat mengerti apa yang diajarkan oleh bapak dan ibu guru di sekolah lho. Pada saat temanmu menulis catatan tersebut, dia menuliskan apa yang dianggap perlu olehnya. Nah, bagaimana kalau ternyata ada hal penting lain yang tidak tercatat olehnya? Wah, bisa-bisa saat ditanyakan di ulangan, kita tidak dapat menjawabnya.
2. Mulailah masuk ke kelas dengan perasaan terbuka.
Kalian pasti bertanya-tanya, apa sih maksud dari kalimat diatas? Kita sering merasakan kita menyukai kelas yang satu sedangkan ada juga kelas yang tidak kita sukai. Entah itu karenanya gurunya galak, tidak dapat menerangkan dengan baik atau bahan yang diajarkan tidak menarik. Karena alasan itulah akhirnya kita sering ogah-ogahan untuk mengikuti kelas tersebut dengan baik. Wah, kalau kita merasa begini terus, bisa-bisa kita tidak dapat nilai bagus di buku rapor. Agar, nilai di rapor tetap memuaskan cobalah untuk tidak langsung men-cap kelas tersebut tidak menyenangkan. Dengarkan apa yang diajarkan oleh guru tersebut, lalu resapi pelajaran yang diajarkan hingga kalian mengerti. Kalau ada yang kurang jelas, cobalah untuk bertanya kepada guru tersebut. Ingat, bahwa semua guru menginginkan agar muridnya pintar dan beliau tidak akan lelah untuk mengajari hingga kalian mengerti. Dengan begitu, selain kamu mengerti pelajaran yang diajarkan, kalian juga menciptakan hubungan yang baik dengan guru kalian.
3. Selalu siap sebelum masuk kelas.
Untuk memastikan bahwa pelajaran yang diajarkan dimengerti oleh para muridnya, guru sering memberikan latihan untuk di rumah atau yang kita sebut dengan pekerjaan rumah (PR). Biasakan untuk menyelesaikan dan mengumpulkan PR tersebut di saat yang ditentukan. Apabila kalian kesulitan menyelesaikan tugas tersebut, kalian dapat meminta bantuan dari ayah, ibu, kakak, teman sekelas atau bahkan dari guru mata pelajaran tersebut. Begitu juga dengan tugas-tugas lain seperti prakarya atau kerajinan tangan. Cobalah untuk mengumpulkan tepat pada waktunya. Dengan demikian, nilai yang kalian dapatkan utuh dan tidak dipotong karena terlambat mengumpulkan.
4. Ikuti bimbingan belajar.
Kalian atau bahkan teman kalian pasti ada yang pernah ikut bimbingan belajar bukan? Bimbingan belajar dapat membantu kalian untuk lebih memperdalam pelajaran yang diajarkan di sekolah. Banyak bimbingan-bimbingan belajar yang dapat kalian ikuti. Pastikan sebelum mendaftar, bimbingan belajar yang kalian pilih merupakan bimbingan belajar yang baik. Coba tanyakan dengan teman kalian, bimbingan belajar apa yang diikutinya dan apakah itu membantunya untuk mengerti pelajaran di sekolah.
Nah, mulailah untuk rajin belajar dari sekarang dan selamat mencoba tips-tips diatas!

Seperti apakah guru ideal itu ?


Setiap orang bisa menyodorkan daftar panjang berisi kriteria-kriteria untuk menjawab pertanyaan ini. Daftar tadi bisa jadi merujuk pada berbagai referensi—kesiapan materi, cara memperlakukan anak didik, tingkah laku, dan lain-lain—yang bisa jadi berbeda-beda bagi setiap orang.
Tapi, daripada pusing menyusun berbagai macam kriteria, mengapa tidak kita tanya saja anak-anak tentang guru yang baik menurut mereka?
EENET Asia menurunkan sebuah laporan tentang guru ideal dalam pandangan anak-anak di China dan Pakistan, tetapi agaknya berlaku pula universal.
Simaklah beberapa komentar anak-anak di China.
“Ibu guru Gao seperti ibu bagiku. Dia mendengar semua masalah dan keluh kesah kami serta membantu kami menyelesaikan masalah.”
“Guru Shan selalu melucu dalam kelas menulis kami dan membuat kami sangat tertarik dalam pelajaran itu. Tanpa saya sadari, saya jadi sangat suka menulis dan secara bertahap, saya mempelajari beberapa trik untuk menulis dengan baik.”
“Dia memperlakukan tiap siswa dengan setara. Dalam kebaikan hatinya, dia tidak pernah memihak. Sebagai murid, ini adalah hal yang paling berharga tentang guru… Dalam kelas guru Chen, kami merasa santai dan hidup (bersemangat). Dia selalu “tanpa sengaja” mengajukan pertanyaan atau membuat kesalahan agar kami dapat membetulkannya. Jika kami mengatakan sesuatu yang salah, tidak menyalahkan kami. Dia bahkan akan berkata sambil tersenyum: “Kesalahan Bagus! Kesalahan membantu kami menemukan masalah-masalah”. Tidak seberapa lama kemudian, bahkan siswa yang paling pemalu mau mengangkat tangan dan menjawab pertanyaannya.”
Anak-anak di Pakistan berpendapat tentang guru yang baik:
“Guru kami tahu nama tiap anak.”
“Dia menjelaskan pelajaran di papan tulis. Jika seseorang tidak paham, dia akan mendudukan anak itu disebelahnya dan menjelaskan lagi pelajaran itu.
Dia menghormati anak-anak, dia selalu memanggil mereka ‘aap’. (aap adalah bentuk sopan ‘kamu’ di Pakistan)”
“Guru kami selalu memperhatikan tiap anak ketika mengajar.”
Paragraf terakhir pada tulisan tersebut agaknya mengena dan menggambarkan secara jelas bagaimana seharusnya seorang guru ideal:
“Guru yang baik pada dasarnya adalah manusia yang baik. Mereka memiliki kepribadian penyayang, baik, hangat, sabar, tegas, luwes dalam perilaku, bekerja keras, serta berkomitmen pada pekerjaan mereka. Pusat perhatian mereka bukanlah pada buku teks atau kurikulum, tetapi pada anak! Mereka sangat menyadari beragamnya cara anak-anak belajar, perbedaan antar anak-anak dan pentingnya metode beragam untuk mendorong siswa mampu belajar. Anak-anak yang belajar dengan guru semacam itu tidak perlu lagi mengeluarkan uang tambahan untuk mengikuti les sepulang sekolah.”

Sudah siapkah peserta didik memanfaatkan eLearning?

Setelah pulang dari pelatihan pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam pembelajaran, tampaknya Pak Ali semakin semangat menggunakan laptop di dalam kelas. Hampir semua materi dia sampaikan menggunakan senjata barunya, dan projector. Tidak henti-hentinya pak Ali menekan tombol dan dengan semangat menjelaskan dari slide satu ke slide yang lain. Matanya sekali-kali melirik layar bergantian dengan pandangannya kepada murid-muridnya. Setelah itu pak Ali memberikan alamat link untuk pembelajaran lanjutan agar murid-muridnya dapat menggali lebih banyak tentang materi yang disampaikan. Pak Ali diberitahukan oleh pelatih pada saat pelatihan bahwa dengan memanfaatkan TIK, pembelajaran jadi lebih menyenangkan dan materi bisa disampaikan dengan lebih cepat. Memang itulah yang pak Ali dapatkan pada saat memberikan materi di kelas. Namun, ketika tiba waktu evaluasi hasil belajar, pak Ali merasa heran dengan perolehan nilai muridnya. Sepertinya dengan memanfaatkan TIK dalam pembelajaran tidak terjadi perubahan signifikan dalam perolehan nilai muridnya, bahkan dalam beberapa materi terjadi penurunan nilai dibandingkan ketika pak Ali belum memanfaatkan TIK dalam pembelajaran. Seperti halnya pendidik yang baik, pak Ali melakukan refleksi pengajaran yang dia lakukan. Dia menyadari bahwa selama memanfaatkan TIK dalam pembelajaran, fokus pembelajaran bukan lagi kepada muridnya tetapi lebih kepada slide yang ditampilkan di depan kelas. Murid tidak lagi aktif, tetapi cenderung lebih pasif. Pembelajaran bukan lagi student centered, bukan juga teacher centered, tetapi lebih kepada slide centered. Pelatihan yang didapatkan pak Ali diharapkan dapat mendorong pemanfaatan TIK dalam pembelajaran. Namun ada satu komponen yang kurang diperhatikan dalam sebuah kegiatan belajar mengajar di dalam kelas, padahal komponen ini adalah komponen yang paling utama dalam pembelajaran, yakni peserta didik. Sudah siapkah peserta didik memanfaatkan TIK dalam pembelajaran/eLearning? Untuk mengetahui sampai sejauh mana kesiapan peserta didik dalam memanfaatkan TIK dalam pembelajaran, tanyakan terlebih dahulu kepada peserta didik hal berikut: Sampai sejauh mana mereka menguasai teknologi yang dipakai dalam pembelajaran Sebagai contoh: Apakah peserta didik tahu bagaimana menjalankan file animasi di komputer mereka? Plugin apa saja yang diperlukan (Flash, Real Media, Shockwave, PDF)? Pengalaman mereka dengan pembelajaran berbasis TIK atau eLearning. Sebagai contoh: Apakah peserta didik pernah mendapatkan pembelajaran eLearning sebelumnya? Apa saja masalah dan tantangan yang mereka hadapi? Kecakapan belajar apa saja yang diperoleh dengan memanfaatkan eLearning? Sebagai contoh: Pengetahuan atau kecakapan apa yang diharapkan dengan mengikuti pembelajaran berbasis TIK? Sebagai contoh: Berapa jam per hari atau per minggu yang tersedia bagi peserta didik untuk membuka tautan/link untuk pembelajaran mandiri? Bagaimana komitmen peserta didik untuk melakukan pembelajaran online? Sebagai contoh: Apakah peserta didik dapat mengakses internet di luar sekolah? Bagaimana cara mengaksesnya? Apakah di rumah atau di warnet? Apakah terdapat komputer yang dapat digunakan untuk pembelajaran online? Sebagai contoh: Apakah peserta didik merasa nyaman dengan melakukan komunikasi melalui chatting dan email atau forum diskusi? Apakah sebelumnya peserta didik pernah mengikuti forum diskusi Sebagai contoh: Apakah terdapat anggota keluarga mereka yang mampu membantu pada saat terjadi problem teknis dengan komputer yang sedang digunakan? Apakah terdapat kontak technical support ISP apabila internet tidak dapat diakses?
Sama halnya dalam pembelajaran, seorang pendidik harus mengetahui kondisi dirinya dan kondisi peserta didik untuk memperoleh hasil pembelajaran yang optimal. Seringkali yang dilakukan pendidik lebih pada kesiapannya mengajar di depan kelas, dan bukan kesiapan peserta didik. Dengan melakukan analisa peserta didik terlebih dahulu, pak Ali dapat memenangkan pertempuran.

Perhatikan Guru Saat Mengajar


Untuk menguasai pelajaran yang ada di sekolah sebenarnya tidaklah sesulit yang kamu pikirkan. Kamu tidak perlu terlalu banyak belajar, ataupun sering-sering mengulang dan mengulang apa yang bapak/ibu guru ajarkan. Kamu tidak perlu terkurung oleh “jam belajar” ataupun kegiatan-kegiatan yang justru akan membuat kamu tidak nyaman.
Berdasarkan pengalaman saya, cara paling efektif untuk menguasai pelajaran di sekolah adalah:
  • Perhatikan guru mengajar,
  • Berusaha pahami apa yang bapak/ibu guru ajarkan saat di sekolah,
  • Tanya jika kurang jelas,tidak perlu malu… Biarlah teman-teman menertawakanmu sekarang, tapi pada akhirnya kamu sendiri yang akan tertawa dengan keberhasilanmu…
  • Kerjakan tugas atau ujian sendiri, dengan kemampuanmu sendiri… percayalah kepada kemampuanmu sendiri, tidak perlu nyontek. Walaupun nilaimu jelek, tapi kamu akan merasa bangga dengan hasil pikiranmu sendiri dan akan tumbuh semangat untuk memperbaikinya (itu kalo yang punya semangat tinggi sih… )
  • PR dari guru adalah salah satu cara mengingatkanmu kembali pelajaran yang sudah diberikan, maka kerjakanlah dengan senyuman..
Sebenarnya kecerdasan ataupun cara seseorang mengatasi masalah akan tumbuh dengan sendirinya ketika seseorang banyak menemui masalah. Dalam hal belajar-mengajar, “masalah” yang dimaksud adalah: TUGAS, PR, UJIAN maupun sekedar “TANYA-JAWAB” saat proses belajar-mengajar. Jika kalian para siswa suka bergelut dengan “masalah” tersebut, hampir dipastikan kalian akan dengan mudah menguasai pelajaran sekolah, namun jika kalian sudah “benci sebelum beraksi“, silakan perbaiki diri karena itu akan menjadi duri bagi diri kalian sendiri. Jadi… banyak-banyaklah menemui “masalah“, contohnya dengan suka mengerjakan soal-soal.
Cara belajar ala sekolah+orang tua kadang juga membuat siswa terlalu tertekan. Dalam kondisi yang tertekan, tentu apa yang siswa pelajari akan kurang maksimal. Saya kira, yang perlu ditekankan kepada siswa “semangat” yang tinggi dengan kondisi yang “santai“. (examsworld)

Anak perlu berkompetensi

Pendidikan adalah sebuah proses yang berkelanjutan sehingga tidak hanya diukur dengan pencapaian prestasi di sebuah ajang kompetisi. Namun, dengan mengikuti kompetisi seorang anak bisa mengukur kemampuan yang dimilikinya sekarang, melakukan pengukuran dan perbandingan kinerja (benchmark) dengan anak-anak lain yang berusia sebaya dengannya, serta memikirkan pencapaian yang diinginkan di kemudian hari.
Demikian diungkapkan Direktur PT Kuark Internasional Sanny Djohan di acara Olimpiade Sains Kuark (OSK) 2011 di Titan Center, Bintaro, Tangerang, Provinsi Banten, Sabtu (19/2/2011). Ia mengatakan, dengan melakukan tiga hal di atas itu seorang anak dengan bimbingan orangtua dan gurunya dapat menjadi pribadi yang memiliki sistematika berpikir yang komprehensif dan mampu mengatasi tantangan dalam kehidupan sehari-hari.
“Pola berpikir kebanyakan orang sering terjebak pada pencapaian prestasi individu di dalam sebuah kompetisi sehingga tidaklah mengherankan jika ada perorangan ataupun tim yang secara khusus dipersiapkan untuk menghadapi sebuah kompetisi. Hal tersebut sudah tentu tidak menggambarkan hasil dari proses pendidikan yang dimiliki oleh sebuah sekolah, daerah, ataupun negara,” ujar Sanny.
Ia memaparkan, OSK dirancang sebagai wadah kompetisi di bidang sains yang terbuka untuk semua siswa tingkat SD se-Indonesia dengan menerapkan kedalaman pemahaman materi yang dapat mengasah kemampuan penalaran siswa. Kegiatan ini, ia berharap, dapat menjadi sebuah acuan standar bagi pemetaan kualitas pendidikan sains tingkat pendidikan dasar di Indonesia.
“Menang dan kalah adalah sebuah dinamika proses berkompetisi dan tidak menghilangkan esensi dari kompetisi itu sendiri,” kata Sanny.
Itu sebabnya OSK dengan sistem kompetisi yang terbuka bagi siapa saja memberikan ruang kebebasan bagi sekolah untuk mendorong setiap siswa ikut serta sebagai sarana untuk mengevaluasi dan melakukan benchmark standar kualitas pendidikan sains dengan siswa-siswa dari sekolah lain secara nasional. Keikutsertaan anak didik secara kontinu dan konsisten dari tahun ke tahun akan memberikan pengalaman yang berharga di dalam membentuk pemahaman konsep dan kemampuan penalaran anak-anak sejak usia dini.
“Sehingga OSK diharapkan juga dapat memberikan umpan balik yang positif kepada pihak sekolah, khususnya dalam melakukan evaluasi terhadap standar kualitas pendidikan sains,” imbuh Sanny yang menerbitkan Komik Sains Kuark sebagai media ajar sains ini.
Sementara penggagas OSK, Prof Yohanes Surya, mengatakan, saat ini orang lazim berpikir bahwa kompetisi hanyalah ditujukan bagi sebagian orang saja, yaitu bagi mereka yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Menurut dia, pemahaman itu tidak salah.
“Namun perlu dipahami juga bahwa kompetisi adalah sarana bagi anak-anak untuk mengasah kemampuan dan membiasakan diri dengan pencapaian standar yang lebih baik lagi”, papar Yohanes.
Ia menambahkan, oleh sebab itu baik orangtua, guru ataupun kalangan pendidik perlu untuk memotivasi anak-anak sejak usia dini untuk berpartisipasi dalam berbagai kompetisi yang positif sebagai sebuah pengalaman dan pelajaran yang berharga bagi masa depan anak-anak.
Diberitakan sebelumnya, Olimpiade Sains Kuark (OSK) 2011 serentak digelar di sejumlah wilayah di Indonesia sebagai kompetisi sains pendidikan dasar tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Kuark Internasional bekerja sama dengan Dharma Dexa. Pada tahun kelima pelaksanaannya ini, OSK diikuti sekitar 82.000 siswa SD/MI dari 152 kota/kabupaten di 33 provinsi di Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

jadikanlah Anda Inspirasi bagi orang lain, Semoga hari Anda menyenangkan dan terimakasih atas komentarnya..