Minggu, 27 Mei 2012

Teknik Berlatih Paduan Suara : Tips dan Trik

Dalam dunia tarik suara kita mengenal jenis-jenis kelompok vokal seperti Duet, Trio, Kwartet, Ansambel, Paduan Suara dll. Paduan Suara sering kita saksikan pada acara-acara rutin gereja bahkan yang bersifat tahunan misalnya : Pesparawi (Pesta Paduan Suara Gerejawi), Perayaan Paskah/Natal.
.
Pembinaan Paduan Suara pada umumnya bersifat temporer, artinya hanya dibentuk jika ada event yang membutuhkan dan menyewa pelatih dari luar dengan biaya yang relatif mahal. Padahal bila kita memahami trik/teknik latihan Paduan Suara sebenarnya tidak terlalu sulit dan bisa kita kerjakan sendiri. Yang penting kita bisa membuat program latihan yang baik, tentunya dengan sarana/tempat latihan yang representatif. KLASIFIKASI PADUAN SUARA
.
Penulis megklasifikasikan Paduan Suara menjadi 3 (tiga) level, yaitu:
.
Level – 1 (Penguasaan Materi)
.
Kriteria : Anggota Paduan Suara mampu menyanyikan lagu/materi sesuai dengan notasi yang tertulis pada partitur.
.
Tips :
- Nyanyikan panjang pendek not sesuai nilai not pada partitur.
- Nyanyikan tinggi rendah nada sesuai dengan interval nada yang tertulis di partitur.
- Tekankan anggota untuk menghafal syairnya.
.
Level – 2 (Interprestasi)
.
Kriteria : Anggota Paduan Suara mampu menyanyikan lagu/materi sesuai dengan interprestasi lagu yang diinginkan oleh komponis maupun aranger lagu tersebut.
.
Tips :
- Latih keras/lembut suara sesuai dengan tanda dinamik pada partitur. Kalau tidak tercantum pada partitur, dinamik disesuaikan dengan makna syair atau karakter alur melody.
- Latih Artikulasi (pengucapan) syair agar terdengar jelas. Misalnya pengucapan konsonan “r”, “s”, “ng”, serta vokal a, i, u, e, o, sehingga terdengar perbedaannya.
- Perhatikan Intonasi (penekanan) suku kata yang sesuai dengan Birama lagu.
- Perhatikan Frasering (pengkalimatan) agar sesuai dengan kalimat yang benar. Ini dapat dicapai jika dilaksanakan dengan teknik pernafasan yang baik.
- Lakukan pemanasan (vokalisi) yang cukup sebelum pelaksanaan latihan dimulai agar diperoleh Timbre (warna suara) yang menyatu, sehingga tidak ada suara yang menonjol sendiri.
Level – 3 (Ekspresi)
.
Kriteria : Setelah melalui tahap level 1 dan 2, anggota Paduan Suara mampu menyanyikan lagu/materi dengan penghayatan dan dikeluarkan melalui ekspresi.
.
Tips :
- Latih cara menyanyikan lagu sesuai dengan karakter lagu, misalnya: Lagu/aransemen yang riang dinyanyikan dengan lincah dan riang. – Perhatikan pada aransemen yang terdapat tanda perubahan tempo, misalnya : Accelerando, rittardando, A- tempo dll., agar dinyanyikan dengan tepat sehingga mendukung ekspresi.
- Tidak semua anggota dapat bernyanyi dengan ekspresi. Tempatkan anggota pada posisi central dan banjar terluar (samping kiri/kanan), karena posisi ini mempengaruhi penampilan secara keseluruhan.
.
Pembagian Kelompok Suara
.
Paduan suara umumnya terdiri dari 4 kelompok suara yaitu Sopran, Alto, Tenor dan Bass. Beberapa arransemen ada pula yang membagi Sopran, Meso, Alto, Tenor, Bariton dan Bass. Untuk mendapatkan balance yang baik, perlu pembagian yang tepat untuk masing-masing kelompok. Tips:
- Kelompokan anggota berdasarkan Range/ambitus suara, jangan paksakan penyanyi Alto bernyanyi dikelompok sopran dengan alasan karena kekurangan anggota sopran, demikian juga kelompok yang lainnya.
- Komposisi SATB (sopran, alto, tenor, bass) yang Ideal adalah 3:2:2:3., namun demikian pedoman di atas dapat berubah dengan pertimbangan potensi Power penyanyi yang ada.
Program Latihan
.
Ada peribahasa “Seberangilah sungai dari tempat yang dangkal” artinya mulailah segala sesuatu dari yang mudah dahulu. Artinya dalam membuat program latihan harus bertahap dari yang mudah dahulu.
.
Tips :
- Selesaikanlah dahulu level-1 baru kemudian mulai level-2, dst. Contoh : jangan mengajarkan materi level-2 kalau anggota belum semuanya lulus level-1, karena akan sia-sia akibat terpecahnya konsentrasi.
- Kelompok paduan suara ibarat rangkaian gerbong kereta api. Jika salah satu gerbong tersendat maka gerbong yang lain kecepatanya terpaksa ikut melambat, menyesuaikan kecepatan gerbong yang tersendat tadi. Perbaiki gerbong (baca : kelompok suara) yang lemah dahulu, baru kelompok gerbong lainnya.
- Awali latihan dengan vokalisi terlebih dahulu, sesuai dengan karakter lagu yang akan dinyanyikan. Jika lagu banyak menggunakan stacato, perbanyak vokalisi stacato, jika lagu banyak nada panjang, perbanyak vokalisi nada panjang.
- Tekankan anggota untuk membaca not, jangan menghafal not, karena kemampuan membaca sangat diperlukan dalam PS. Setelah anggota dapat menyanyikan notasi dengan benar tekankan untuk menghafal syair.
Dirigen
.
Dirigen dalam Paduan Suara sangat berpengaruh terhadap keberhasilan penampilan Paduan Suara. Idealnya Dirigen Paduan Suara merangkap pelatih sejak awal program latihan dilaksanakan, agar secara emosional akan terjalin komunikasi. Namun karena keterbatasan personel di TNI AL yang bisa memimpin Paduan Suara, seringkali Dirigen ditunjuk berdasarkan senioritas, atau dari sukarelawan yang memberanikan diri karena tidak ada yang mau menjadi dirigen. Sebaiknya hal ini dihindari.
.
Tips:
- Pilihlah Dirigen yang mempunyai wawasan PS lebih daripada anggota Paduan Suara lainnya, jangan berdasarkan senioritas saja.
- Fungsi Dirigen memadukan Suara dari anggotanya sehingga menjadi satu komposisi yang padu dan harmonis. Untuk itu Dirigen harus menguasai materi dengan baik dan benar, sebelum ia memadukan (memimpin) kelompok Paduan Suaranya.
- Dirigen jangan memulai aba-aba jika belum seluruh mata anggota memperhatikan Dirigen, karena kontak mata sangat penting untuk menjalin komunikasi antara Dirigen dan anggota Paduan Suara.
.
Demikianlah secara singkat Tips berlatih Paduan Suara, semoga dapat bermanfaat.
.
“Keberhasilan adalah buah dari latihan, namun tanpa disiplin, latihan tidak menghasilkan apa-apa”.
.
Selamat berlatih . . ..©
.
Sumber : Kapten Laut (KH) Albert AFR, S
MAJALAH CAKRAWALA TNI – AL

Malang Kembali ke-7

MALANG, KOMPAS.com — Festival Malang Kembali, kegiatan tahunan sejenis penyelenggaraan acara wisata kota, kembali dilaksanakan di Malang, Jawa Timur. Festival yang telah memasuki tahun ketujuh ini akan berlangsung pada 24-27 Mei 2012.
Koordinator dan penggagas Festival Malang Kembali VII (FMK VII), Dwi Cahyono yang juga Ketua Dewan Kesenian Malang (DKM), menjelaskan bahwa FMK adalah sebuah arkeologi kemasyarakatan, saat masyarakat berusaha menelusuri kembali rekaman sejarah Malang dan kemudian dibagi dan dinikmati kembali bersama masyarakat luas.
"Jika akhirnya menjadi peristiwa pariwisata, silakan saja. Demikian juga jika akhirnya juga menjadi arena penjualan benda-benda komersial, meski hal ini tak direncanakan, tak bisa dilarang. Namun, hal-hal itu bisa dilaksanakan di sekeliling arena FMK," kata Dwi, Rabu (23/5/2012) di Malang.
FMK belum berubah dari rencana awalnya saat kali pertama digagas oleh komunitas kajian budaya di Malang, tujuh tahun lalu, bahwa FMK hendak mengenang kembali keutuhan dan suasana kekeluargaan sebuah masyarakat. "Kita pernah mengalami masa indah, ketika setiap etnis bisa bergaul sesamanya tanpa ketegangan, tanpa perasaan khawatir, dan tanpa stereotipe atau prasangka. Terbukti, saat FMK berlangsung bertahun-tahun ini, perbedaan sosial lantas luruh," kata Dwi.
Kegiatan FMK menutup satu kawasan cagar budaya di Jalan Ijen, Kota Malang, sepanjang dua kilometer, untuk penyelenggaraan berbagai acara budaya, seperti festival jajanan tradisional, mainan tradisional seperti gobak sodor, gasing, egrang, pagelaran, pagelaran teater dan tari tradisional seperti ludruk dan tari topeng, serta musik keroncong. Ada pula paparan multimedia sejarah-sejarah kawasan kuno di Malang, sepertin Klojen yang berasal dari kata kalojian, atau lokasi loji, rumah besar Eropa (Belanda).
Ada 13 situs pameran sejarah kawasan Malang kuno yang disiapkan, dan ada juga pameran kendaraan kuno, termasuk mobil kenegaraan Presiden Soekarno, hingga peragaan koleksi batik, dan banyak lagi. Pada tahun-tahun sebelumnya, acara ini telah berkembang sebagai kegiatan yang mendatangkan wisatawan mancanegara, dan telah pula menjadi jadwal turisme yang dijual ke pasar wisata dunia.

Festival Malang Kembali 2012 ( Malang Tempoe Doeloe )

Malang kembali meroepakan seboeah arkeologi poeblic jaitoe arkeologi oentoek masjarakat (Noerwidi. 2006) jang berarti memboewat seboeah poeblikasi dan menjebarloeaskan hasil-hasil penelitiannja sehingga masjarakat dapat merasakan manfaat dari hasil penelitian beroepa dokoementasi baik beroepa aoedio, visoeal dan verbal. Di sini, program sosialisasi hasil dari penelitian sedjarah Malang kepada masjarakat oemoem dalam bentoek atjara boedaja dengan djoedoel Malang Kembali, Festival Tempo Doeloe, Festival Sejarah, Seni Boedaja jang di dalamnja berisi serangkaian kegiatan jang meroepakan rekonstroeksi kehidoepan masjarakat Malang pada suatoe waktoe tertentoe.
Kegiatan Malang Kembali VII meroepakan event ke -7 setelah Malang kembali 1 s/d 6 jang tijap tahoen diadakan. Dalam event ini atmosfer jang disoegoehkan adalah atmosfer tempo doeloe, moelai dari setting lokasi, dekorasi tiap panggung, dekorasi stand sampai dengan kostoem pengoendjoeng, semoeanja diboeat mendekati soesana tempo doeloe. Di sini pengoenjoeng dapat menikmati berbagai soegoehan antara lain panggoeng pertoendjoekan kesenian tradisional, lomba-lomba dan stand-stand jang mendjoewal makanan, minoeman dan sooevenir bernoeansa tempo doeloe.
sumber : inggil.org