Jumat, 25 April 2014

Pengembangan Diri


1.      Mahasiswa mampu menjelaskan manfaat pengembangan diri
2.      Mahasiswa mampu memahami urgensi pengembangan diri dalam dunia kerja
3.      Mahasiswa mampu mengembangkan kerja sama.
4.      Mahasiswa mampu menganalisis hubungan pengembangan diri dengan pengembangan kepribadian.

Mata kuliah pengembangan kepribadian merupakan mata kuliah umum atau lebih dikenal dengan softskill. Mata kuliah tersebut termasuk mata kuliah umum yang telah diamanatkan dalam Undang-undang No. 02 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan ditegaskan kembali pada Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003.
Mata kuliah ini didesain untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya melalui teori-teori kepribadian, sehingga mahasiswa sebagai mahluk individu dan sosial mampu berprestasi melalui potensi yang dimilikinya. Teori-teori yang akan diberikan meliputi konsep kepribadian, pengenalan diri, evaluasi diri, potensi, minat dan bakat, dasar perilaku individu, efektifitas pribadi, pengembangan diri, kebiasaan efektif, produktif, berpikir positif, kemampuan adaptasi, keterampilan komunikasi lisan, tantangan dan peluang tenaga professional, dan jamuan bisnis.
Matakuliah ini ditempuh pada semester IV mahasiswa Administrasi bisnis Politeknik Negeri Malang dan diselesaikan dalam satu semester dengan waktu pertemuan 2 sks(2x45menit)/Minggu.
Pengembangan kepribadian sebagai modal dalam menghadapi dunia kerja saat ini bahwa kita mengatahui penilaian aspek softskill lebih diutamakan dari pada hardskill, sehingga perlu ada pembelajaran dalam pengembangan potensi yang dimiliki agar lebih siap dalam menghadapi dunia kerja.
Untuk mewujudkan hal tersebut maka pembahasan pengembangan kepribadian sebagai upaya pengembangan potensinya perlu adanya pembelajaran yang membahas pengembangan diri untuk mengembangkan potensi yang kita miliki, meliputi: peranan pengembngan diri dalam pekerjaan, kemantapan peran, arti dan pentingnya pengembangan, mengembangkan diri dalam jabatan, mengembangkan kerja sama, dan mengembangkan kepribadian melalui pengembangan diri. Setelah pembelajaran ini diharapkan mahasiswa mampu untuk memahami dan mempraktikkan teori-teori kepribadian untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya dan sukses dalam dunia kerja.

          Kemantapan peran menambah motivasi kerja, dan merupakan faktor yang menentukan efektifitas seseorang. Beberapa faktor yang dapat menambah kemantapan peran misalnya: perasaan orang bahwa perannya merupakan titik sentral dalam organisasi, integrasi peranan sendiri, kemungkinan bagi seseorangv untuk mengambil inisiatif dan mengembangkan kreatifitas. Hubungan suatu peran dengan peran lainnya dalam organisasi, membantu hubungan dalam organisasi, mencapai tujuan yang lebih besar dan berguna bagi oranglain, peluang untuk tumbuh, dan sebagainya.


Untuk mengukur kemantapan peran dari berbagai peran dalam organisasi dan mengambil beberapa langkah guna meningkatkannya, maka perlu diperhatikan adalah:
1.      Norma pengakuan kecakapan mengembangkan suasana motivasi kerja.
2.      Motivasi kerja, sebagai sepadan dengan tantangan yang diberikan oleh pekerjaan kepada seseorang.
3.      Peluang untuk ikut dalam pengambilan keputusan dalam rangka meningkatkan motivasi kerja.
4.      Motivasi kerja langsung berhubungan dengan tanggapan terhadap peluang untuk perkembangan dan pertumbuhan dalam pekerjaan.
5.      Perasaan bahwa seseorang menyumbang bagi tercapainya tujuan yang lebih besar meningkatkan motivasi.
6.      Pola motivasi seseorang dapat dirubah.
7.      Prestasi langsung menambah kepusan kerja dan merupakan hasil langsung dari usaha, bukan sebaliknya.
8.      Motivasi kerja seseorang dan kemampuan untuk berprestasi dapat bertambah dengan pengalaman yang berhasil dan tugas yang lambat laun makin menantang.
9.      Pada umumnya perilaku, yang diganjar diperkuat.
10.  Promosi berdasarkan kebajikan dan kecakapan menciptakan suasana motivasi kerja yang tinggi.
11.  Promosi hanya memberi motivasi jika pekerjaan yang baru didapat dari promosi itu memberi tantangan lebih besar.

            Prestasi seseorang yang bekerja di suatu organisasi tergantung kepada kemungkinan efektifitasnya sendiri. Kecakapan teknis, pengalaman manajerial, perencanan peran yang dimainkan dalam organisasi itu, dan sebagainya. Integrasi dari kedua hal itu (orang dan peran) dapat memastikan efektifitas orang itu dalam organisasi. Tanpa memiliki pengetahuan, kecakapan teknis dan keterampilan yang diperlukan untuk perannya, seseorang tidak dapat efektif.


Jika perannya tidak memberi kesempatan untuk menggunakan kecakapannya, dan jika seseorang terus menerus merasa kecewa dalam peran itu, maka efektifitasnya mungkin akan rendah. Integrasi orang dan peranan terjadi apabila peran dapat memenuhi kebutuhan orangnya, dan jika orang dapat menyumbang nilai pada peran. Makin banyak kita mengubah pengambilan peran (menanggapi harapan dari berbagai orang) menjadi pembuatan peran (mengambil inisiatif dalam merencakan peran itu secara lebih kreatif dengan cara mengintegrasikan berbagai harapan dari orang lain dan pemegang peran), kemungkinan suatu peran akan efektif. Efektifitas seseorang dalam peran di organisasi dapat tergantung dari kemungkinan efektifitasnya sendiri, kemungkinan efektifitas perannya, dan iklim keorganisasiannya. Kemantapan pribadi jadi berarti kemungkinan efektifitas seseorang dalam kondisi individual dan antar pribadi. Kemantapan peran berarti kemungkinan efektifitas seseorang yang memegang suatu peran tertentu dalam sebuah organisasi. Kemantapan peran dapat dianggap faktor psikologis yang mendasari efektifitas peran. Pola prinsipnya, kemantapan peran adalah kemungkinan efektifitas dari suatu peran.
a.       Integrasi diri dan peran
Tiap orang mempunyai kekuatan sendiri, yakni dari pengalaman, pendidikan teknis,  keterampilan khusus yang mungkin dimiliki, suatu sumbangan unik yang mungkin dapat diberikan. Apabila peran seseorang makin banyak memberi peluang untuk menggunakan kekuatan khusus, maka semakin besar kemantapannya. Hal tersebut dinamakan keterpaduan orang dan peran.

b.      Proaktifitas
Seseorang yang memegang suatu peran menanggapi berbagai harapan dari orang-orang dalam. Oraganisasi tersebut tentang suatu peran. Hal tersebut memberikan kepuasan dan juga memuaskan orang lain dalam organisasi. Tetapi jika ia juga mengambil inisiatif untuk memulai sesuatu kegiatan, maka kemantapannya akan bertambah.
c.       Kreatifitas.
Tidak hanya inisiatif saja yang penting bagi kemantapan, suatu peluang untuk mencoba cara baru dan tidak konvensional dalam memecahkan persoalan atau suatu peluang untuk berbuat kreatif juga penting. Jika seseorang merasa harus menjalankan tugas rutin saja, hal tersebut tidak membantu untuk memantapkan peran lebih lanjut. Apabila ia merasa bahwa perannya tidak memberinya waktu atau peluang untuk bertindak kreatif, maka kemantapannya akan menurun.
d.      Konfrontasi
Pada umumnya, jika orang-orang dalam suatu organisasi menghindar dari masalah atau menyerahkan masalah kepada orang lain untuk dipecahkan, berarti kemantapan peran mereka rendah. Kecenderungan umum untuk menghadapi persoalan dan memperoleh pemecahan yang sesuai menambah kemantapan.
2.      Pemusatan peran (Pengetahuan Peran)
a.       Keterpusatan
Setiap orang yang bekerja dalam suatu oraganisasi ingin mendapatkan peran penting. Jika orang-orang memegang peran tertentu menilai peran mereka tidak pokok, atau tidak penting, maka efektifitas potensial mereka mungkin rendah.
b.      Pengaruh
Suatu konsepsi yang berhubungan adalah pengaruh atau kekuasaan. Makin besar pengaruh seseorang dalam peran, makin tinggi kemantapan peran.
c.       Pertumuhan pribadi  
    Suatu faktor yang secara efektif menyumbang kepada kemanjuran peran adalah persepsi bahwa peran tersebut memberi peluang kepada orang untuk tumbuh dan berkembang.

a.       Hubungan antar peran
Hubungan antar peran diri sendiri dengan peran lainnya dalam organisasi meningkatkan kemantapan. Jika terdapat usaha bersama untuk memahami masalah menemukan penyelesaian, dan sebagainya, kemantapan dari berbagai peran yang terlibat mungkin besar dan orang dianggap mengetahui cara kerja yang efektif.
b.      Hubungan saling bantu
Disamping hubungan antar peran, peluang bagi orang-orang untuk menerima dan memberikan bantuan juga meningkatkan kemantapan peran.
c.       Superordination
Superordinasi, suatu peran mungkin mempunyai hubungan dengan berbagai sstem, kelompok  dan  kesatuan di luar organisasi.
Orang-orang dengan kemantapan peran yang tinggi kelihatannya jarang menanggulangi persoalan atas kekuatan sendiri. Mereka aktif dan bergaul dengan orang-orang lingkungannya, berusaha memecahkan masalah, kebanyakan sendiri dan kadang-kadang dengan bantuan orang lain. Mereka memperlihatkan perilaku positif dengan pendekatan, mereka puas dengan kehidupan dan pekerjaan serta peran mereka dalam organisasi, itulah gambaran manajer yang efektif.
  Persaingan maupun kerjasama keduanya penting, karena mereka menjalankan fungsi yang berbeda. Sesungguhnya kerjasama dan persaingan dapat dipahami sebagai sifat yang saling mengisi. Peragaan berikut menunjukkan berbagai fungsi persaingan dan kerja sama.  

Cara berpikir strategis dan konsepsional memberi petunjuk agar didahulukan investasi yang bernilai strategis pula, karena dengan hanya demikianlah keterbatasan yang dihadapi dalam berbagai bidang dapat semakin cepat teratasi, yang pada gilirannya akan memperbesar kemampuan berbuat lebih banyak di masa yang akan datang.
Untuk lebih jelasnya, berikut ini pengertian tentang pengembangan menurut Moekiyat dan Kellogg:
“ Pengembangan” adalah: setiap usaha memperbaiki pelaksanaan pekerjaan yang sekarang atau yang akan datang dengan memberikan informasi, mempengaruhi sikap atau menambah kecakapan. Dengan kata lain pengembangan adalah setiap kegiatan yang dimaksudkan untuk mengubah kelakuan yang terdiri dari pengetahuan, kecakapan dan sikap.(Moekiyat, 1999)
            Kellog merumuskan “Pengembangan” sebagai suatu perubahan dalam orang yang memungkinkan individu bersangkutan bekerja lebih efektif. Hasil dari pengembangan adalah pegawai memiliki pengetahuan atau informasi baru, dapat menerapkan pengetahuan lama dengan cara baru atau mempunyai minat yang lebih besar untuk menerapkan apa yang diketahui.
Dengan demikian jelas bahwa kemampuan teknis atau keterampilan untuk melakukan pekerjaan kantor sangat diperlukan.
Pengembangan seseorang/pegawai, dalam realisasinya dapat dilakukan baik oleh dirinya sendiri maupun atas prakarsa organisasi yantu dengan cara mengikuti pendidikan dan latihan yang mencakup:
a.       Pre-service training
Yaitu latihan yang dibebankan sebelu menempati suatu jabatan, meliputi:
-          Pendidikan formal yang diselenggarakan umum.
-          Latihan Pra-Jabatan ini diselenggarakan oleh organisasi atau perusahaan tempat seseorang bekerja.
b.      In Service Training
Yaitu latihan yang dilakukan pada saat seseorang sedang menduduki jabatannya agar lebih menjamin relevansi yang tinggi dengan tugas pokok, fungsi dan kegiatan yang harus diemban oleh seseorang pada umumnya.
Setiap individu diharapkan mempunyai tanggung jawab untuk mengembangkan dirinya sendiri dengan cara menambah pengetahuan, keterampilan atau merubah sikap sesuai dengen ilmu dan teknologi serta sesuai pula dengan kebutuhan baru yang timbul dalam organisasi ia bekerja.
Tujuan pengembangan dan latihan adalah:
-          Menambah pengetahuan,
-          Manambah keterampilan, dan
-          Merubah sikap.
 
Belajar dari pengalaman, mengamati sebab keberhasilan orang lain dan tidak mengulangi kesalahan yang dibuatnya seseorang dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan baik dan lebih cepat, sehigga dapat dengan mudah dan benar-benar tahu apa yang harus dikerjakan. Kemampuan kerja seseorang dapat menarik perhatian pimpinan dan rekan-rekan sekerja, serta membuka kesempatan bagi orang termaksud untuk lebih cepat menduduki jabatan yang lebih baik.
Promosi adalah kenaikan jabatan, yaitu menerima wewenang dan tanggung jawab yang belum dimiliki sebelumnya. Promosi tidak selalu diikuti dengan kenaikan gaji. Gaji dapat tetap, tapi pada umumnya bertambah besarnya wewenang dan tanggung jawab seseorang, hal ini dimaksudkan untuk mengembangkan lebih lanjut karier seseorang. Disamping itu seseorang harus berusaha untuk dapat memanfaatkan kesempatan, sehingga dapat membuktikan bahwa ada kesanggupan untuk menangani pekerjaan yang lebih besar.
Pada suatu saat, kemungkinan seseorang akan sampai pada tugas yang membutuhkan tanggung jawab yang lebih besar, membutuhkan pengetahuan jauh melampaui batas kemampuannya. Ini berarti bahwa seseorang tidak dapat mengandalkan pengetahuan yang dimilikinya sekarang.  Oleh sebab itu sebagai seorang pegawai harus selalu berusaha untuk menambah pengetahuan dan keterampilan sendiri.

Proses kerja sama dan proses persaingan menambah efektifitas seseorang. Persaingan dan kerja sama dapat dimengerti, baik dalam kaitan dengan tujuan utama, dorongan pokok, maupun berkenaan dengan persepsi atas tujuan dalam hubungan dengan diri sendiri dan orang lain yang terlibat. Persaingan dapt ditegaskan berkenaan dengan dorongan untuk unggul baik terhadap orang lain maupun terhadap prestsi diri sendiri di masa lampau.
Persaingan dapat didefinisikan sebagai kerja untuk pencapaian eksklusif dari suatu tujuan. Yang dianggap tidak dapt dibagi dengan orang lain, dlam kondisi dimana dua orang atau lebih terlibat dalam pencpaian tujaun itu.
Kerja sama dapat didefinisikan dalam kaitan dengan seorang lain atau lebih untuk mencapai suatu tujuan yang dianggap dapat dibagi. Dlam definisi ini kriteria pokok untuk perilaku kerja sama atau persaingan adalah persepsi tentang tujuan. Jika tujuannya dianggap dapat dibagi, bekerja dengan orang lain untuk mencapai tujuan itu merupakan perilakukerja sama. Jika dianggap tidak dapat dibagi, yakni jika dua orang terlibat teteapi hanya satu yang dapat mencapai tujuan bekerja untuk pencapaian eksklusif dari tujuan itu (artinya secara tersirat melawan orang lain yang bersangkutan) adalah perilaku bersaing.
Kerja sama sangat diperlukan untuk meraih kesuksesan di semua aspek kehidupan, sayangnya, tidak semua orang memiliki kecakapan bekerja sama. Untuk orang-orang yang memiliki kecerdasan interpersonal, membangun kera sama dengan orang lain tidaklah sulit. Akan tetapi, ada sebagian orang yang mengalami kesulitan untuk membangun kerja sama. Hal ini sering kali diperparah oleh kebiasaan sikut-sikutan. Orang yang merasa dirinya sangat cerdas secara logika tetapi kurang rendah hati, sering mengalami kesulitan dalam membangun kerja sama. Itulah sebabnya kita sering melihat orang yang sangat cerdas tetapi karirnya tidak melejit.

a.      Bentuk fungsional dan Disfungsional kerja sama dan persaingan
Kerja sama dan persaingan dapat digunakan secara efektif, kerja sama maupun persaingan dapat dimasukkan dalam dua golongan yaitu fungsional dan disfungsional, atau positif dan negatif.
Istilah persaingan(+) dan persaingan (-), kerja (+) dan  Kerja(-) digunakan untuk menunjukkan persaingan positif dan negatif, atau fungsional dan disfungsional. Persaingan(-) didefinisikan sebagai kecenderungan seseorang untuk menghalangi orang lain untuk mencapai tujuan atau secara langsung atau tidak langsung menghalangi orang lain mewujudkan tujuannya menjadikan kenyataan. Apabila seseorang lebih memperhatikan pesaing dan cara mencegah pesaing mencapai tujuan, hal itu disebut persaingan negatif. Menurut Likert, kriteria utama kefungsionalan, adalah sesuatu yang menambah harga diri seseorang.
Kerjasama dapat fungsional atau disfungsional, dan kerja(-) adalah kecenderungan untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan orang lain agar menyenangkan mereka, atau untuk menghindari tekanan tugas dan tuntutan tugas, jika seseorang bekerja sama dengan orang lain hnya karena yang terakhir ini lebih berkuasa, atau ia ingin menyenangkan hati yang terakhir ini, dan hal ini disebut kerja(-). Demikian pula jika seseorang maka kerja sama itu disebut disfungsional. Kerjasama fungsional atau kerja (+) adalah kecenderungan memberi sumbangan bagi usaha lebih efektif, sehingga menghasilkan sikap saling percaya, saling hormat dan saling memperhatikan. Kerja sama tersebut menambah harga diri, dan membantu pengembangan berbagai hal yang diinginkan. Oleh karena itu, kerja sama dianalisis menurut jenis kerja sama akan dikembangkan.


Tabel 1
FUNGSI PERSAINGAN DAN KERJA SAMA
Peran Persaingan Mengembangkan
Peran Kerjasama Mengembangkan
-          Identitas
-          Tanggung jawab
-          Standar intern
-          Keunggulan
-          Kreatifitas perorangan
-          Autonomi perorangan
-          Kebersamaan
-          Idedan penyelesaian alternative
-          Salingmendukung dan memperkuat
-          Sinergi
-          Tindakan kolektif bersama.
-          Menambah keahlian
    Sumber: Sedarmayanti, 2004 (hal:125)

a.      Menambah Keahlian
Keuntungan kerja sama adalah didobraknya keterbatasan diri tiap pribadi. Kurangnya keahlian orang-orang dalam beberapa bidang tidak menghalangi tercapainya tugas tertentu. Orang-orang yang berlainan mempunyai kekuatan yang berlainan dan ketika bekerja sama, mereka menghimpun berbagai keahlian yang tersedia. Akibatnya, kelompok yang bekerja sama mampu menentukan penyelesaian multi-dimensional.
Kerja sama dan persaingan memainkan peran masing-masing dalam suatu organisasi. Seringkali kerangka kerja sama jauh lebih fungsional daripada kerangka persaingan, karena keadaan ini menyangkut masalah yang dihadapi organisasi, menentukan standar, mencri alternatif dan sebagainya. Oleh karena itu kerja sama merupakan dimensi yang sangat penting dalam kehidupan keorganisasisan. Pada umumnya kerja sama mendorong perkembangan kearah yang lebih baik, dan mempunyai akibat sampingan yang lebih baik daripada persaingan.



Setiap individu pada umumnya ingin maju, berkembang dan sukses, namun tidak banyak individu yang tahu kemana dan bagaimana pengembangan tersebut dilakukan.
            Beberapa hal penting yang dapat dipakai oleh setiap individu untuk mengembangkan dirinya antara lain:
a.       Berusaha mengenal diri sendiri
b.      Berusaha mengenal kekuatan diri sendiri
c.       Berusaha mengenal kelemahan diri sendiri
d.      Berusaha mengembangkan interaksi dan komunikasi terbuka dengan lingkungan yang positif dan edukatif.
e.       Mebiasakan diri selalu mengadakan kritik terhadap diri sendiri, mengevaluasi diri, dan mengembangakan rasa humor
f.       Mencoba menerima keadaan secara rasional dan obyektif
g.      Membiasakan diri selalu mengadakan pengecekan, dan teliti dalam setiap tindakan,
h.      Memiliki tujuan dalam tahapan waktu yang terprogram
i.    Tidak mengimintasikan diri pda seseorang, tetapi mandiri.