Kamis, 11 Agustus 2011

Laksamana Cheng Ho – Kasim yang Menjelajah Hingga 30 Negara

Oleh: Adhes Satria
(Sumber: Sabili No. 13 TH. XVI 15 Januari 2009 / 18 Muharram 1430, hal 114-121 [Edisi Khusus “The Great Muslim Traveler”])
Laksamana Cheng Ho telah melampaui para pengembara Barat sekaliber Christopher Columbus dan Vasco da Gama. la mengemban misi dakwahnya hingga 30 negara dengan cara yang simpatik dan membawa pesan perdamaian.
Laksamana Cheng Ho punya banyak nama; Zheng He, The Ho, Sam Po (Sam Bao ), Sam Po Kong (San Bao Gong), Sam Po Taijin (San Bab Da­ ren), Sam Po Toa Lang, dan Sam Po Tai Kam (San Bao Taijian). Adapun nama aslinya adalah Ma He.
Nama-nama itu sangat popular di kalangan orang-orang Tionghoa Asia Tenggara, khususnya generasi tua. Namun, pengetahuan mereka akan sosok dan peran Cheng Ho lebih banyak dida­sarkan pada legenda atau dongeng. Cheng Ho sendiri adalah sebuah nama yang diberikan oleh Ming Cheng Tzu atau yang lebih dikenal dengan Kaisar Yong Le (Kaisar Zhu Oi), kaisar ke-23 Dinasti Ming yang berkuasa di Tiongkok dari 1403­-1424. Jalinan persahabatannya dengan sang kaisar menghantarkan kepadanya anugerah jabatan tinggi dan nama keluarga baru, Cheng. Maka disebutlah dengan nama Cheng Ho.
Menurut sejarah resmi Dinasti Ming (Mingsi), Cheng Ho dilahirkan tahun 1371 M di Distrik Kunyang, Provinsi Yunnan, wilayah yang sudah lama dihuni oleh pemeluk Islam. la dilahirkan dari keluarga miskin etnis Hui di Yunnan. Hui adalah komunitas muslim Cina berdasarkan campuran Mongol-Turki. Ayahnya bernama Ma Hazhi (Haji Ma). Ibunya bermarga Wen. Yang menarik, ahli sejarah bernama Prof Haji Lie Shishou, Cheng Ho disebut-sebut keturunan ke-37 Nabi Muhammad saw. Dikatakan, nenek moyang Cheng Ho yang ke-11 adalah utusan duta besar negeri Bukhara yang bernama Sayyidina Syafii (cucu ke-26 dari Nabi Muhammad saw).

Pada waktu Cheng Ho berusia 12 tahun, Provinsi Yunnan direbut oleh tentara Dinasti Ming menggan­tikan Dinasti Yuan. Saat itu Cheng Ho dan sejumlah anak muda lainnya ditawan dan dikebiri oleh tentara Ming. Cheng Ho dibawa ke Nanjing sebagai kasim atau pelayan intern di istana. Se­jak berbakti kepada pangeran Zhu Di, putera ke-4 Kaisar Zhu Yuanzhang (kaisar per­tama Dinasti Ming), Cheng Ho meman­ faatkan segala fasilitas dengan banyak membaca dan ikut bertempur.
Berkat keberanian dan kecerdasan Cheng Ho yang turut andil mengguling­kan Kaisar Zhu Yunwen membuat Kaisar Zhu Di kagum padanya. Sejak itu dianugerahilah nama marga Cheng kepada Ma He (nama asli Cheng Ho). Diangkatnya sebagai kepala kasim intern di Istana, Cheng Ho bertugas membangun istana, menyediakan alat-alat istana, mengurus gudang es, dan lain-lain.
Pada awal abad ke-15, Kaisar Zhu Di memerintahkan Cheng Ho untuk melakukan pelayaran-pelayaran (ekspedisi laut) ke Samudera Barat dalam rangka menjalin persahabatan dan memelihara perdamaian antara Tiongkok dengan negara-negara asing. Cheng Ho pun diangkat sebagai laksamana, komandan tertinggi yang membawahi abdi dalem di dinas rumah tangga istana.
Dalam ekspedisinya, Cheng Ho didampingi oleh wakil dan dan sekretarisnya, di antaranya: Laksama­na Muda Heo Shien (Husain), Ma Huan, dan Fei Shin (Faisal). Selain Ma Hu­ an yang mahir berbahasa Arab, Cheng Ho juga mengikut-sertakan Hassan, seorang imam dari bekas Ibukota Sin An (Changan), yang bertindak sebagai juru bahasa Arab. Dalam “politik diplomasi laut” itu Kaisar Zhu Di menggelar armada berjumlah 62 kapal besar dan 225 junk (kapal berukuran lebih kecil) serta 27.550 perwira dan prajurit, termasuk ahli astronomi, politikus, pembuat peta, ahli bahasa, ahli geografi, tabib, juru tulis, dan intelektual agama.
Cheng Ho mengadakan ekspedisi laut sebanyak tujuh kali sejak 1405-1433 (tahun wafatnya Cheng Ho). Telah lebih dari 37 negara telah dikunjunginya dalam pelayarannya itu. Dilihat dari kuantitas dan waktu, ekspedisi Cheng Ho jauh melampaui para pengembara asal Eropa: Christopher Columbus, Vasco da Gama, Ferdinand Magellan, Francis Drake, dan lain-lain
Penjelajah Pertama
Gavin Menzies, mantan kapal selam Angkatan Laut Kerajaan Inggris menulis buku kontroversial berjudul: 1421: The Year China Discovered America. Dalam bukunya, Menzies menyebutkan bahwa armada-armada Cheng Ho mendarat di Benua Amerika dan mengelilingi dunia jauh lebih awal ketimbang Ferdinand Magellan atau Christopher Columbus.

Atas pendapat tersebut, beberapa sejarawan masih mempertanyakan ihwal apakah armada-armada Cheng Ho pernah mengunjungi Amerika bagian utara sebelum orang-orang Barat? Apakah armada Cheng Ho merupakan ekspedisi pertama yang mengelilingi dunia?
Menurut pengamat sejarah dari Universitas Indonesia (UI), Leirissa, bukti-bukti yang dikumpulkan Menzies belum meyakinkan. Dengan kata lain, peta-peta Barat yang dibuat berdasarkan informasi yang diperoleh dari sumber-sumber Tiongkok zaman Cheng Ho itu perlu ditelaah lebih mendalam. “Tak satu pun peta China yang dapat ditemukan hingga kini, kecuali peta-peta Kangnido dan Mao Kun yang tidak mencakup informasi tentang benua Amerika,” kata Leirissa.
Berikut tujuh ekspedisi pelayaran (muhibah) yang dilakukan Cheng Ho ke wilayah luar perbatasan Tiongkok: Eks­pedisi I (1405-1407) berangkat dari Ibu­kota Nanjing ke Calicut (Kozhikode di negara bagian Kerala, India Selatan), juga mengunjungi Champa, Jawa Sriwijaya, serta beberapa tempat di Sumatera dan Srilangka (Ceylon). Ekspedisi II (1407­ 1409) berlayar ke India untuk mengangkat raja baru di Calicut.
Ekspedisi III (1409-1411) menuju Champa, Temasek, Malaka, Sumatera (Samudra dan Tamiang), Calicut, dan Ceylon (Srilangka). Ekspedisi IV (1413-1415) adalah pelayaran ke Champa, Jawa, Sumatera, Malaya. Maladewa, Srilangka, India hingga Hormuz.

Ekspedisi V (1417-1419) menuju Champa, Jawa, Palembang, Malaka, Aden, Mogadishu, Brawa, Malindi di pantai Barat Afrika. Ekspedisi VI (1421-1422) menuju Afrika, juga melalui Malaka, Aru, Samudera, Lambri, Coimbattore, Kayal, Ceylon, Hormuz, Dhufar, La-sa, Aden, Mogadishu, Brafa, Thailand. Terakhir, ekspedisi VII (1431-1433) mengunjungi 20 negara, di antaranya menuju Vietnam bagian selatan, Surabaya, Palembang, Malaka, Samudra, Ceylon, Calicut, Afrika, dan Jeddah. Setiap pelayaran armada itu memakan waktu satu hingga tiga tahun. Meski telah keliling dunia, Cheng Ho tidak pemah berhasil mencapai Makkah.
Ketujuh pelayaran di bawah pimpinan Laksamana Cheng Ho bisa dipastikan merupakan perjalanan sebuah di­plomasi kebudayaan. Cheng Ho menyebarluaskan kebesaran kekuasaan Tiongkok dan keluhuran kebudayaan Tionghoa tanpa harus menggunakan jalan kekerasan.
Di negeri asalnya, daratan Tiongkok, Cheng Ho ditokohkan sebagai simbol diplomasi damai. Namun, sebagian sejarawan Barat masih ada yang menganggap Cheng Ho sebagai figur “neokolonialis dan imperialis”. Pelayaran Cheng Ho dianggap penuh dengan aspek kekerasan dan bertujuan sarna seperti Barat, yaitu menjajah Asia Tenggara.
Berbeda dengan sejarawan Asia yang mengatakan Cheng Ho bukan neokolonialis, karena selama berlayar tidak pemah menduduki sejengkal pun tanah orang, tidak punya koloni, dan juga tidak mengeruk kekayaan negeri lain untuk dibawa pulang ke Tiongkok. Di bawah pimpinan Cheng Ho, ada tujuh pelayaran yang dilatarbelakangi oleh ambisi Dinasti Ming untuk menunjukkan keperkasaan rniliter, keagungan budaya Tiongkok, dan keinginan memulihkan kembali hubungan kekaisaran Tiongkok dengan negara-negara pembayar upeti di wilayah selatan yang sempat terputus menjelang runtuhnya Dinasti Yuan.
Kekaisaran Ming tidak menjajah atau menempatkan tentara serta mengeksploitasi sumber daya alam wilayah-wilayah tersebut. Cheng Ho sengaja memamerkan kekuatan militer dan memperkuat hegemoni Kekaisaran Tiongkok sambil mene­barkan keluhuran kebudayaan Tiongkok dengan jalan damai, walaupun tidak segan menggunakan jalan kekerasan sebagaimana pernah dilakukannya ketika menangkap Chen Zuyi di Palembang atau saat menawan Raja Ceylon.
Salah satu tujuan pelayaran Cheng Ho ke selatan adalah untuk melacak keberadaan pemberontak bernama Chen Zuyi yang mendapat cap “bandit” atau bajak laut. Karena terdesak oleh pergerakan tentara Ming, dia terpaksa menyingkir ke Palembang.

Yang jelas, Cheng Ho bisa saja meng­gunakan kekuatan untuk memberlakukan sistem kolonialisme dan imperialisme di wilayah Laut Selatan. Akan tetapi hal itu tidak ia lakukan. Pelayaran Cheng Ho, ibarat “misi diplomasi kebu­dayaan”. Itu dibuktikan oleh berbagai petilasan di Nusantara yang memperlihatkan adanya percampuran bu­daya lokal, Islam, dan Tiongkok.

Adanya hubungan Dinasti Ming dengan Asia Tenggara, khususnya Kerajaan Malaka, karena ketika itu terjadi kevakuman kuasa politik di kawasan Asia Tenggara dan Lautan Pasifik pada awal abad ke-15. Kerajaan-kerajaan besar seperti Sriwijaya dan Majapahit yang sempat berjaya di kawasan itu sudah terpecah belah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Pengaruh mereka mulai mere­dup dan hilang. Begitu pula kekuasaan Arab di Timur Tengah. Pada periode itulah muncul pengaruh Parameswara dari Kerajaan Malaka dan Laksamana Cheng Ho dari Tiongkok.

Lenyapnya kekuatan politik kera­jaan-kerajaan besar di Nusantara mengakibatkan ketentraman dan keamanan di seluruh lautan Nusantara menjadi terganggu. Perompak dari daratan Cina, Jepang, India, dan terutama dari Nusantara sendiri, leluasa menjalankan aksi. Mereka nyaris menguasai seluruh pelosok Nusantara. Merebaknya aksi-aksi bajak laut tentu sangat mengganggu arus perdagangan di rantau, terutama hubungan dagang antara China dan dunia Arab serta Eropa. Dengan latar belakang itulah Kaisar Zhu Di mengutus Laksamana Cheng Ho untuk mengarungi Lautan Barat sebanyak tujuh kali sejak 1405 sampai 1433. (Gavin Menzies mengatakan dimulai sejak 1403).
Ada beberapa tujuan Kaisar Zhu Di memercayakan Cheng Ho untuk melakukan tujuh pelayaran ke sejumlah belahan dunia. Tujuan terpentingnya adalah, Kaisar Zhu Di menggunakan armada-armada Cheng Ho untuk menjalin kembali silaturahim negara-negara di Nusantara, Arab, dan Afrika bagian timur. Hubungan antara mereka dan Cina sempat terhenti akibat serangan dan pendudukan tentara Mongol.
Tujuan kedua, untuk membuka kembali perdagangan kerajaan yang sempat terputus. Seperti diketahui, Kaisar Zhu Yuanzhang pernah melarang semua aktivitas perdagangan antarabangsa sejak Dinasti Ming berdiri. Itulah sebabnya Kaisar Zhu Di mencoba memecahkan masalah dengan melanjutkan perdagangan luar negeri.
Tujuan lainnya adalah untuk melakukan penelitian tentang Lautan Barat. Sebagaimana diketahui, armada Cheng Ho mengikutsertakan banyak ahli pembuat peta (kartografer), peneliti kelautan (oseanografer), ahli perbintangan (astr­olog), peneliti budaya (antropolog dan etnolog), ahli ilmu bahasa (linguis), ahli diplomasi, ahli kependudukan (demo­graf), ahli biologi, dan pendakwah agama Islam. Di antara pembantu Cheng Ho terdapat banyak imam dan orang Muslim mahir berbahas Arab, Persia, dan Melayu.
Interprestasi lain oleh kalangan sejarawan ihwal pelayaran armada-armada Cheng Ho sebetulnya merupakan usaha Kaisar Ming untuk menantang Tamerlan dengan mencari sekutu di Asia Selatan, khususnya India. Seperti diketahui TamerIan atau yang lebih dikenal Timur Leng berhasrat untuk membangun kembali kejayaan bangsa Tartar semasa Genghis Khan.
Islamisasi di Jawa
Belakangan; sejarawan mengaitkan fakta bahwa pelayaran armada-armada Cheng Ho berhubungan erat dengan agama yang dianut Cheng Ho. Pelayaran tersebut digambarkan sebagai misi muhibah seorang penganut Muslim shalih ke masyarakat dan negara-negara Islam yang ketika itu sudah berkembang di Nusantara, seperti di Lambri, Samudra Pas ai, dan lain-lain. Ada pula yang mengatakan, Cheng Ho sebagai tokoh sejarah memiliki peran besar dalam Islarnisasi di Indonesia, terutama di Pulau Jawa.
Ada argumentasi menarik terkait faktor-faktor Tionghoa dalam Islamisasi Asia Tenggara. Selama ini kita hanya mengenal dua arus Islamisasi Asia Tenggara, yakni arus dari Timur Tengah dan arus dari India, khususnya Gujarat. Kemunculan teori arus Tionghoa dalam Islamisasi di Indonesia tentunya akan memperkaya khazanah kesejarahan itu sendiri.
Pelayaran Cheng Ho sebanyak tujuh kali ke wilayah selatan tentunya memiliki pengaruh cukup besar. Di Jawa misalnya, terjadi apa yang disebut “Sino Javanese Muslim Cultures” yang membentang dari Banten, Jakarta, Cirebon, Semarang, Oemak, Jepara, Lasem sampai Gresik, dan Surabaya. Perpaduan kultur Cina-Jawa itu merupakan akibat dari perjumpaan Cheng Ho dengan masyarakat Jawa. Hal itu bisa dibuktikan, tidak hanya dalam berbagai bangunan peribadatan Islam yang menunjukkan adanya unsur Jawa, Islam, dan Cina, tetapi juga berbagai seni, sastra (batik, ukir), dan unsur kebudayaan lain.
Prof. Hembing Wijayakusuma, peneliti masalah Cheng Ho, mencatat 10 situs bersejarah yang tersebar di Indonesia yang menunjukkan adanya percampuran budaya loka!, Islam, dan budaya Tiongkok. Harus diakui, bangsa Tionghoalah, dalam hal ini peran Cheng Ho, yang sebetulnya merniliki peran penting dalam Islamisasi di Jawa.
Pada 1425-1430 M, saat Kekaisaran Ming menghentikan semua pelayaran ke negeri seberang untuk sementara waktu, Cheng Ho tetap tinggal di Nanjing dengan pangkat kehormatan “Penjaga Kota Nanjing”. Apabila tidak berlayar, Cheng Ho tinggal di Nanking (Nanjing) dan mengawasi segala persiapan untuk pelayaran berikutnya. Oleh sebab itu, dalam masa 29 tahun dari pelayaran pertama sam­pai pelayaran ketujuh, dia lebih sering berada di atas geladak kapal daripada tinggal di rumah. Oia meninggal dunia di kota itu pada usia 64 tahun, tidak lama setelah kembali dari pelayaran terakhir.

Ada pendapat yang menyebutkan bahwa Cheng Ho sebenarnya meninggal di sekitar wilayah Calicut, India, di Samudera Hindia pada pelayaran terakhir sesuai kepercayaan Islam, sedangkan yang dikuburkan di Nanjing adalah pakaian kebesarannya.
Armada terakhir Cheng Ho kembali ke Tiongkok pada Juli 1433. Sebuah makam dibangun untuk menghormati Cheng Ho di Bukit Niu Shou Shan dekat Nanjing. Wafatnya Cheng Ho juga menandakan akhir kejayaan maritim Tiongkok. Namun nama besar Cheng Ho telah tersebar ke seluruh Asia Tenggara. Dia dikenal dengan nama kehormatan San Bao Gong (Sam Po Kong dalam dialek Fujian) atau San Bao Daren (Sam Po Tay Jin), dan sebutan lain dalam bahasa lokal. Kaisar bahkan memberi julukan “Ma San Bao” (Si Tiga Permata). Banyak klenteng didirikan di kawasan Asia Tenggara untuk menghormati dirinya sebagai tokoh pendiri dan pelindung kota-kota mereka.
Di dalam komunitas Cina (Tionghoa) dewasa ini, baik Muslim maupun non­-Muslim, Cheng Ho telah dijadikan tokoh mitologi. Cheng Ho tidak hanya dipuja dan dikagumi sebagai “Bahariawan Agung”, tetapi juga disembah sebagai dewa di berbagai klenteng dengan sebutan “Sam Po Kong”. Tentu ini merupakan pengagungan berlebihan yang tak semestinya terjadi.
Kisah pelayaran Cheng Ho tidak hanya menorehkan jejak sejarah yang mengagumkan di setiap negara yang dilaluinya, tetapi juga mengilhami ratusan karya ilmiah, baik fiksi maupun nonfiksi, serta penemuan berbagai teknologi kelautan-perkapalan di Eropa khususnya pasca penjelajahan sang maestro. Legenda “Sinbad Sang Pelaut” yang sangat popular di Timur Tengah juga diinspirasi oleh kisah legendaris Cheng Ho.


Kisah Penaklukan Konstantinopel oleh Muhammad al-Fatih Sang Penakluk

(Sumber: Orhan Basarab, “Sultan Mehmed II Sang Pembantai Dracula”, Yogyakarta: Darul Ikhsan, Cet. I, Januari 2008)
Semenjak hari pertama menjadi sultan, Mehmed II telah mematrikan tekad untuk mewujudkan cita-cita leluhurnya, menaklukkan Konstantinopel. Oleh karena itu, ia segera menyiapkan segala sesuatunya untuk mewujudkan cita-cita itu. Birokrasi kerajaan ia rapikan. Tentara perang ia tata. Strategi ia matangkan.
Bagi Mehmed II menaklukkan Konstantinopel memang tidak mudah. Sebagai benteng Kristen di Eropa dan Asia, tentu pasukan Salib akan berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan diri. Ini terbukti bahwa sejak kakek buyutnya penaklukan Konstantinopel tak pernah bisa terwujud. Sudah ratusan ribu pasukan telah dikerahkan, namun benteng Konstantinopel tak bisa ditembus. Pada masa kakeknya misalnya, pasukan Turki Ottoman telah berhasil mengepung Konstantinopel sehingga bisa memaksa Kaisar Konstantinopel pada waktu itu menyerah. Akan tetapi, keberhasilan yang sudah berada di depan mata itu akhirnya berantakan ketika tentara Mongol yang dipimpin Timurlenk menyerang Turki Ottoman.
Menghadapi kondisi yang sulit tersebut maka mau tak mau kakek Mehmed II, Bezayid, menarik pasukannya dari Konstantinopel. Belajar dari kegagalan demi kegagalan tersebut maka selain mempersiapkan kekuatan militer, Mehmed II juga mempelajari segala hal tentang Konstantinopel. Salah satu yang ia pelajari adalah mitologi tentang kota tua itu. Sepanjang hari ia habiskan waktunya di perpustakaan. Buku-buku kuno ia buka dan baca halaman demi halaman. Ia berusaha terus mencari rahasia di balik benteng-benteng Konstantinopel sehingga kota itu tak mudah dirobohkan.
Setelah sekian lama menyusuri isi buku demi buku akhirnya Mehmed II menemukan apa yang dicarinya. Dalam sebuah buku dijelaskan tentang keyakinan rakyat Konstantinopel. Mereka, rakyat Konstantinopel, percaya bahwa kota mereka akan selalu dilindungi oleh bulan purnama. Bagi mereka bulan purnama ibarat payung suci yang akan selalu memberikan berkah pada Konstantinopel. Pertama kali membaca mitologi ini awalnya Mehmed II tidak begitu hirau. Akan tetapi, setelah merenungkannya akhirnya ia memperoleh pelajaran yang cukup berharga, yang kelak pelajaran tersebut akan ia gunakan ketika menyerang Konstantinopel. Begitu mendapatkan apa yang telah dicarinya, rasa percaya Mehmed II semakin bertambah. Ia yakin Konstantinopel akan dapat dikuasai.
Kini secara mental Mehmed II telah siap. Sekarang tinggal bagaimana ia mempersiapkan pasukannya. Turki Ottoman memang telah memiliki yanisari, sebuah pasukan khusus yang andal. Tapi Mehmed II menyadari kalau hal ini tidak akan cukup untuk bisa mengalahkan Konstantinopel. Maka ia mengundang beberapa ahli pembuatan misau dan pengolahan logam. Selama beberapa hari mereka mengadakan diskusi yang mendalam tentang pembuatan senjata baru. Dan, akhirnya mereka mampu mengembangkan meriam jenis baru. Meriam ini diberi nama Orhan. Para sejarawan mencatat bahwa meriam yang dibuat tersebut–diberi nama Meriam Raja–merupakan meriam terbesar pada masa itu, beratnya ratusan ton dan memerlukan ratusan tentara untuk mengangkatnya.
Jam telah berganti hari. Hari berganti bulan. Dan, persiapan pun semakin matang. Pada titik akhir persiapan Mehmed II telah berhasil mengumpulkan 250.000 pasukan, jumlah ini lebih besar dari kekuatan militer manapun. Selama bertahun-tahun pasukan tersebut telah dilatih untuk menghadapi segala macam medan pertempuran.
Setelah persiapan militer ia anggap cukup, Mehmed II membuat perjanjian damai dengan musuh-musuhnya. Perjanjian yang dibuat antara lain dengan Kerajaan Galata. Strategi ini ternyata cukup ampuh. Adanya perjanjian-perjanjian tersebut membuat Bizantium panik. Oleh karena itu, tak mengherankan kalau mereka mencoba membujuk Mehmed II agar menghentikan serangan. Akan tetapi, usaha itu sia-sia. Mehmed II bergeming. Ia teguh pada pendiriannya.
Strategi selanjutnya yang dilakukan Mehmed II adalah menguasai kota Rumeli. Kota ini terletak di Selat Bhosphorus, di antara tebing yang memisahkan Eropa dan Asia. Sejak lama kota ini mempunyai peran yang penting bagi pelayaran dunia. Kapal dari Eropa yang hendak ke Asia, dan begitu sebaliknya, selalu melalui kota ini. Dengan direbutnya kota tersebut oleh pasukan Mehmed II maka jalan untuk menguasai Konstantinopel tinggal sejengkal lagi.
Penyerangan
Pasukan telah dikerahkan meninggalkan ibu kota Turki Ottoman. Di barisan paling depan panji-panji bulan sabit berkibar-kibar tertepa angin. Di belakangnya para prajurit berjalan dengan tatapan penuh dengan keyakinan. Ketika kaki-kaki mulai meninggalkan gerbang kota, rakyat berdiri di pinggir jalan, memberikan semangat pada pasukan yang akan maju berperang. Hal ini tentu saja menambah semangat para prajurit semakin bergemuruh. Mereka semakin yakin kalau kemenangan itu akan datang.
6 April 1453 dan hari-hari berikutnya
Pasukan Turki Ottoman sampai di pintu gerbang Konstantinopel. Begitu sampai di tempat tersebut Sultan Mehmed II segera berpidato pada pasukannya. Dalam pidatonya Sultan Mehmed II menyampaikan bahwa tinggal selangkah lagi mengalahkan Konstantinopel, dan tinggal umat Islam sendiri mau atau tidak mewujudkan impian itu. Pidato itu disambut dengan suka cita oleh para pasukan. Semangat mereka membuncah. Suara teriakan mereka membelah cakrawala Konstantinopel.
Keesokan harinya, Sultan Mehmed II membagi pasukannya menjadi tiga lapis. Lapis pertama terdiri dari kesatuan Yanisari dan pasukan terlatih lainnya. Mereka ini bertugas menembus benteng Konstantinopel. Kemudian lapisan kedua dan ketiga terdiri dari pasukan penyangga yang bertugas membantu pasukan lapisan pertama. Dengan posisi ini diharapkan serangan dapat dilakukan secara terus-menerus.
Sejarah Yanisari tak bisa dilepaskan dari munculnya Kapikulu. Kapikulu merupakan pasukan khusus yang pada awalnya digunakan untuk mengawal dan melindungi keluarga kerajaan. Sebagian besar anggota Kapikulu merupakan tawanan perang yang kemudian memluk agama Islam. Mereka ini kemudian dilatih untuk menjadi pribadi-pribadi yang tangguh dengan tugas utama mengawal raja dan keluarga kerajaan dari ancaman musuh. Nah, dari anggota Kapikulu yang terbaik inilah kemudian direkrut menjadi anggota Yanisari.
Keanggotaan Yanisari semakin meningkat ketika Murad II (Mehmed I, ayah Mehmed II) naik tahta. Selain untuk melawan kekuatan Orde Naga, pasukan khusus yang dimiliki pasukan Salib, Yanisari juga digunakan untuk melindungi sang sultan dari serangan lawan-lawan politik—masa Murad II merupakan masa perang saudara yang berlangsung cukup lama. Sebagai anggota Yanisari selain mengambil prajurit terbaik dari Kapikulu, Murad II juga merekrut pemuda-pemuda Turki dan sanak keluarganya.
Sebagai pasukan khusus dan organisasi rahasia, perekrutan Yanisari sangat tertutup. Siapapun yang menjadi anggota Yanisari maka keluarganya tidak ada yang mengetahui. Dan, kerahasiaan tersebut akan dijaga sampai ajal menjemput. Guna menjaga agar kerahasiaan tersebut tetap terjaga maka sistem perekrutan yang digunakan adalah berdasarkan sistem keluarga. Misalnya, ketika sang bapak menjadi anggota Yanisari maka ia akan merekrut anak tertuanya. Biasanya sang anak akan benar-benar direkrut setelah menginjak usia 24 atau 25. Tradisi inilah yang terus dijaga oleh Yanisari sampai berabad-abad kemudian.
Anggota Yanisari mendapatkan gaji tetap dari kerajaan yang akan dibayarkan setiap tiga bulan sekali. Mereka juga diberikan semacam lencana khusus oleh sultan untuk membedakan dengan prajurit lainnya. Lencana inilah yang akan diwariskan kepada anaknya bila si bapak akan pensiun.
Sebagai pasukan khusus, anggota Yanisari dilengkapi dengan senjata api. Pada masanya, senjata api merupakan senjata paling modern, sehingga hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menggunakannya. Selain senjata api mereka juga dilengkapi dengan granat tangan.
Selain dilatih cara berperang, anggota Yanisari juga dilatih ketrampilan lainnya. Ketrampilan-ketrampilan yang diajarkan adalah cara memasak, mengobati, menyiapkan senjata, memasang tenda, dan kerja-kerja teknis yang lainnya. Dengan kemampuan yang beragam tersebut diharapkan anggota Yanisari mampu bertahan dalam segala situasi.
Komando Yanisari dipegang langsung oleh sultan, Dan, hanya sultan pula yang mengetahui siapa saja yang menjadi anggota Yanisari. Dengan sistem ini tak mengherankan kalau Yanisari berkembang sangat solid dan rahasia.
Sementara itu di laut, kapal-kapal Turki Ottoman telah disiapkan pula. Empat ratus kapal sudah siap melakukan serangan dari lautan. Dari kejauhan kapal-kapal tersebut mirip dengan kotak korek api yang tertata dengan rapi. Persiapan yang dilakukan di laut memang tak semulus di daratan. Ketika akan memasuki Tanjung Emas, kapal-kapal tersebut terhalang oleh rantai-rantai besar yang dipasang oleh Bizantium. Sehingga banyak kapal yang berada di tempat tersebut terjebak dan akhirnya karam. Angkatan laut Turki Ottoman berusaha mematahkan rantai-rantai tersebut, tapi tak berhasil. Situasi semakin sulit ketika pasukan salib dari Eropa datang untuk membantu angkatan laut Bizantium. Perang panah pun terjadi di lautan. Anak-anak panah melesat seperti ribuan burung srigunting.
Kegagalan di laut tak membuat pasukan Turki Ottoman yang berada di daratan patah arang. Mereka mulai melakukan serangan. Benteng Konstantinopel selain dihujani dengan anak panah juga dengan hantaman peluru yang berasal dari meriam. Akibatnya, beberapa bagian benteng Konstantinopel roboh. tentu saja situasi ini membuat pasukan Bizantium panik karena selama ini belum ada yang bisa merobohkan benteng Konstantinopel. Situasi yang semakin kritis membuat Kaisar Bizantium berusaha terus-menerus memberikan semangat pada prajuritnya. Ia meyakinkan kalau Konstantinopel tidak akan jatuh karena akan dilindungi oleh Yesus dan Maria. Ia pun melakukan misa di gereja Hagia Sophia.
Hampir selama satu bulan pasukan Bizantium bisa mempertahankan benteng Konstantinopel. Serangan-serangan yang dilakukan oleh pasukan Turki Ottoman memang berhasil membuat beberapa bagian benteng roboh, tapi tetap tidak bisa menembus benteng. Inilah yang membuat semangat pasukan Bizantium meningkat. Mereka meyakini kata-kata kaisar mereka bahwa Konstantinopel akan selalu dilindungi oleh Yesus dan Maria.
Selama masa penyerangan pasukan Turki Ottoman ini, Kaisar Bizantium berusaha untuk membujuk Sultan Mehmed II. Ia menawarkan daerah-daerah lain yang dimilikinya asalkan Sultan Mehmed II menghentikan serangan terhadap Konstantinopel. Akan tetapi, tawaran tersebut ditolak mentah-mentah oleh Sultan Mehmed II. Sang sultan menjawab tawaran tersebut dengan mengirimkan surat. Surat itu berbunyi:
“Wahai Kaisar Bizantium, jika engkau rela menyerahkan Konstantinopel maka aku bersumpah bahwa tentaraku tidak akan mengancam nyawa, harta, dan kehormatan rakyat Konstantinopel. Aku akan melindungi rakyatmu yang ingin tinggal dan hidup di Konstantinopel. Dan, bagi rakyatmu yang akan meninggalkan Konstantinopel maka keamanan mereka akan dijamin.”
Karena tidak ada titik temu maka pertempuran pun terus berlanjut. Pada tanggal 18 April pasukan Turki Ottoman kembali melakukan serangan besar-besaran. Serangan ini mampu merobohkan benteng Konstantinopel yang berada di Lembah Lycos. Selain serangan darat, pasukan Turki Ottoman juga menggencarkan serangan dari laut. Armada laut Turki Ottoman berusaha untuk menerobos rantai-rantai bergerigi yang dipasang oleh pasukan Bizantium. Akan tetapi, usaha ini belum juga menemukan keberhasilan. Akibatnya banyak kapal perang Turki Ottoman yang tenggelam. Hal ini menyebabkan sebagian besar pasukan yang ada di laut pupus harapan. Pada kondisi seperti ini Sultan Mehmed II segera memberikan suntikan semangat pada prajuritnya. Ia berkata, “Kalian tawan semua kapal Bizantium atau kalian semua tenggelam.” Selesai mengucapkan kata-kata itu ia memacu kudanya sampai ke bibir pantai. Lecutan semangat dari sang sultan itu mampu membangkitkan kembali moral pasukan Turki Ottoman. Mereka kembali bertempur, berusaha menerjang rantai-rantai di lautan. Namun sekali lagi usaha ini tidak berhasil. Pasukan laut Bizantium yang telah bergabung dengan pasukan Salib berhasil menghadang gerak maju pasukan Turki Ottoman.
Kegagalan serangan laut itu membuat gusar Sultan Mehmed II. Ia segera memecat panglima angkatan laut, Palta Oglu, menggantikannya dengan Hamzah Pasha. Sementara itu, moral prajurit Turki Ottoman kembali meluruh. Keadaan inilah yang mendorong Khalil Pasha, wazir Turki Ottoman, mengusulkan pada Sultan Mehmed II untuk membatalkan serangan dan menerima kesepakatan yang ditawarkan oleh Kaisar Konstantinopel. Jelas, usul tersebut ditolak mentah-mentah oleh Sultan Mehmed II. Sebagai pewaris Kesultanan Turki Ottoman ia tidak akan menyerah begitu saja. Maka ia berpikir keras agar jalan buntu itu bisa diurai. Ia mempunyai keyakinan pasti ada jalan keluar untuk bisa menerobos Tanjung Emas. Dan benar, setelah berpikir dengan serius akhirnya Sultan Mehmed II menemukan ide yang menakjubkan, yaitu memindahkan kapal dari lautan lewat darat.
Begitu mendapatkan ide “gila”, pada malam harinya Sultan Mehmed II memerintahkan agar prajuritnya memindahkan kapal perang dari laut ke darat. Awalnya ide ini dijalankan dengan setengah hati oleh para prajurit Turki Ottoman karena mengira sultan mereka telah gila akibat tidak berhasil melakukan serangan dari laut. Akan tetapi, setelah Sultan Mehmed II menjelaskan secara rinci bagaimana cara memindahkan kapal-kapal itu, mereka mulai bisa menerima.
Awalnya Sultan Mehmed II memerintahkan pada prajuritnya untuk mengumpulkan kayu gelondongan dan minyak goreng. Kayu-kayu tersebut kemudian diolesi dengan minyak goreng sehingga menjadi licin. Setelah semuanya siap kemudian sang sultan memerintahkan agar kapal-kapal perang mulai ditarik ke daratan dengan menjadikan kayu-kayu gelondongan sebagai rodanya. Para prajurit bekerja keras menjalankan perintah sultannya. Mereka terus bekerja sepanjang malam.
Pada malam itu, dengan diterangi bintang gemintang, kapal-kapal perang Turki Ottoman mulai berlayar di daratan. Kapal-kapal tersebut melintasi lembah dan bukit. Sebuah peristiwa yang kelihatannya tidak masuk akal. Akhirnya, berkat kerja keras pasukan Turki Ottoman, ketika pagi telah pecah di ufuk timur, 70 kapal perang Turki Ottoman telah berpindah lokasi, berhasil melintasi Tanjung Emas lewat daratan, melintasi Besiktas ke Galata.
Rakyat Bizantium begitu terkejut melihat peristiwa “kapal-kapal yang berlayar di daratan”. Mereka tak percaya dengan kejadian yang mereka lihat. Karena tak percaya, sebagian dari mereka menggosok-gosok mata, dan sebagian yang lain mencubit diri mereka sendiri untuk memastikan bahwa semuanya bukan mimpi. Tapi kenyataan memang kenyataan. Setelah yakin bahwa peristiwa yang mereka lihat adalah kenyataan, tuduhan-tuduhan pun mulai terlontar. Sebagian dari mereka berpandangan bahwa pasukan Turki Ottoman pastilah dibantu oleh jin dan setan. Sementara itu, Yilmaz Oztuna, penulis buku “Osmanli Tarihi”, menceritakan bagaimana seorang ahli sejarah Bizantium berkata, “Tidaklah kami pernah melihat atau mendengar hal ajaib seperti ini. Muhammad al-Fatih telah menukar darat menjadi lautan, melayarkan kapalnya di puncak gunung dan bukannya di ombak lautan. Sesungguhnya Muhammad al-Fatih dengan usahanya ini telah mengungguli yang pernah dilakukan Alexander the Great!”
Begitulah keajaiban itu terjadi. Sampai saat ini usaha Sultan Mehmed II tersebut masih dikenang.
Ide Sultan Mehmed II yang awalnya dianggap sebelah mata oleh orang-orang terdekatnya, ternyata setelah berhasil berdampak luar biasa. Rasa percaya diri pasukan Turki Ottoman kembali terlecut. Mereka tak lesu lagi dan siap melancarkan serangan kembali. Serangan mematikan pun tinggal menunggu waktu.
Ketika purnama telah berlalu Sultan Mehmed II merencanakan serangan itu dilancarkan. Mengapa ia memilih serangan pada saat ini? Dari membaca buku-buku tentang mitologi masyarakat Konstantinopel ia mendapatkan bahwa mereka percaya bahwa selama bulan purnama maka kota mereka akan selalu dilindungi. Karena kepercayaan ini maka baik prajurit maupun masyarakat Konstantinopel akan yakin bahwa mereka tak akan bisa dikalahkan. Inilah yang menyebabkan mereka sulit dikalahkan. Oleh karena itu, ketika purnama telah berlalu Sultan Mehmed II melancarkan serangan terakhir.
Sebelum serangan dilancarkan, Sultan Mehmed II memerintahkan agar dibuat terowongan untuk menembus benteng Konstantinopel. Maka ketika serangan diputuskan, pasukan Turki Ottoman mulai memasuki terowongan.
27 Mei 1453
Sebelum serangan dimulai, Sultan Mehmed II dan pasukannya menjalankan shalat. Seusai shalat mereka kemudian berdoa, meminta kepada Allah swt agar kemenangan yang sudah berada di depan mata itu menjadi kenyataan. Sementara itu, penduduk Konstantinopel juga melakukan hal serupa. Mereka menggelar misa di gereja Hagia Sophia.
29 Mei 1453
Malam telah melewati ambang. Hanya gemintang yang menemani malam. tak ada secuil pun cahaya purnama. Pada saat inilah pasukan Turki Ottoman melakukan serangan besar-besaran. Pasukan Turki Ottoman berusaha memasuki benteng Konstantinopel. Kali ini pasukan Turki Ottoman terdiri dari tiga lapis. Lapis pertama terdiri dari pasukan yang berasal dari Anatolia, sedangkan lapis kedua dan ketiga merupakan kesatuan Yanisari.
Melihat serangan besar-besaran ini, Giustiniani–salah satu panglima Bizantium–menyarankan agar Constantine mundur. Akan tetapi, saran tersebut ditolak oleh Constantine. Beberapa ahli sejarah menceritakan bahwa Constantine melepas baju perang dan kemudian bertempur bersama pasukannya. Dan, setelah perang usai jasadnya tidak pernah ditemukan.
Akhirnya, setelah berperang selama sebulan pasukan Turki Ottoman bisa menguasai kota Konstantinopel melalui pintu Edinerne. Begitu memasuki kota Konstantinopel, Sultan Mehmed II dalam pidatonya menyatakan akan melindungi seluruh penduduk kota itu yang menyerahkan diri. Ia juga berjanji melindungi tempat-tempat ibadah, baik milik orang-orang Kristen maupun Yahudi. Rupanya ia mengikuti yang dilakukan Saladin ketika menaklukkan Yerusalem. Pidato yang terkenal ini disampaikan Sultan Mehmed II di pelataran Hagia Sophia, di hadapan penduduk Konstantinopel.
Ketika Konstantinopel benar-benar bisa direbut, Mehmed II berkata, “…sesungguhnya kalian melihat aku gembira sekali. Kegembiraanku ini bukanlah semata-mata karena kejayaan kita menaklukkan kota ini. Akan tetapi karena di sisiku hadir syeikhku yang mulia, dialah pendidikku, asy-Syeikh Ak Semsettin.”
Konstantinopel telah berhasil ditaklukkan. Ramalan itu terwujud sudah. Benteng Salib pun telah berhasil dipatahkan oleh Sang Penakluk.
Abu Qubail menuturkan dari Abdullah bin Amr bin Ash, “Suatu ketika kami sedang menulis di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba beliau ditanya, “Mana yang terkalahkan lebih dahulu, Konstantinopel atau Romawi?” Beliau menjawab, “Kota Heraklius-lah yang akan terkalahkan lebih dulu.” Maksudnya adalah Konstantinopel.” [H.R. Ahmad, Ad-Darimi, Al-Hakim]
“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hambal Al-Musnad 4/335]
muhammad-al-fatihKekaisaran Romawi terpecah dua, Katholik Roma di Vatikan dan Yunani Orthodoks di Byzantium atau Constantinople yang kini menjadi Istanbul. Perpecahan tersebut sebagai akibat konflik gereja meskipun dunia masih tetap mengakui keduanya sebagai pusat peradaban. Constantine The Great memilih kota di selat Bosphorus tersebut sebagai ibukota, dengan alasan strategis di batas Eropa dan Asia, baik di darat sebagai salah satu Jalur Sutera maupun di laut antara Laut Tengah dengan Laut Hitam dan dianggap sebagai titik terbaik sebagai pusat kebudayaan dunia, setidaknya pada kondisi geopolitik saat itu.
Yang mengincar kota ini untuk dikuasai termasuk bangsa Gothik, Avars, Persia, Bulgar, Rusia, Khazar, Arab-Muslim dan Pasukan Salib meskipun misi awalnya adalah menguasai Jerusalem. Arab-Muslim terdorong ingin menguasai Byzantium tidak hanya karena nilai strategisnya, tapi juga atas kepercayaan kepada hadits Rasulullah SAW melalui riwayat Hadits di atas.
Upaya pertama dilakukan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan pada tahun 668 M, namun gagal dan salah satu sahabat Rasulullah SAW yaitu Abu Ayyub Al-Anshari ra. gugur. Sebelumnya Abu Ayyub sempat berwasiat jika ia wafat meminta dimakamkan di titik terjauh yang bisa dicapai oleh kaum muslim. Dan para sahabatnya berhasil menyelinap dan memakamkan beliau persis di sisi tembok benteng Konstantinopel di wilayah Golden Horn.
Generasi berikutnya, baik dari kekhalifahan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyyah hingga Turki Utsmani pada masa pemerintahan Murad II ayah Muhammad II juga gagal menaklukkan Byzantium. Salah satu peperangan Murad II di wilayah Balkan adalah melawan Vlad Dracula, seorang tokoh Crusader (Perang Salib) yang bengis dan sadis (Dracula karya Bram Stoker adalah terinsipirasi dari tokoh Vlad Dracula ini, Insya Allah tokoh Dracula akan dibahas dalam Postingan berikutnya). Selama 800 tahun kegagalan selalu terjadi, hingga anak Sultan Murad II yaitu Muhammad II naik tahta Turki Utsmani.
Sejak Sultan Murad I, Turki Utsmani dibangun dengan kemiliteran yang canggih, salah satunya adalah dengan dibentuknya pasukan khusus yang disebut Yanisari. Dengan pasukan militernya Turki Utsmani menguasasi sekeliling Byzantium hingga Constantine merasa terancam, walaupun benteng yang melindungi –bahkan dua lapis– seluruh kota sangat sulit ditembus, Constantine pun meminta bantuan ke Roma, namun konflik gereja yang terjadi tidak menelurkan banyak bala bantuan.
muhammad-al-fatih1Hari Jumat, 6 April 1453 M, Muhammad II atau disebut juga Mehmed II bersama gurunya, syaikh Aaq Syamsudin, beserta pasukannya dibawah komando Halil Pasha dan Zaghanos Pasha merencanakan penyerangan ke Byzantium dari berbagai penjuru benteng kota tersebut. Dengan berbekal 150.000 ribu pasukan dan meriam buatan Urban –teknologi baru pada saat itu– Muhammad II mengirim surat kepada Paleologus untuk masuk Islam atau menyerahkan penguasaan kota secara damai atau perang. Constantine XI Paleologus menjawab tetap mempertahankan kota dengan dibantu oleh Kardinal Isidor, Pangeran Orkhan dan Giovanni Giustiniani dari Genoa.
Kota dengan benteng 10m-an tersebut memang sulit ditembus, selain di sisi luar benteng pun dilindungi oleh parit 7 m. Dari sebelah barat melalui pasukan altileri harus membobol benteng dua lapis, dari arah selatan laut Marmara pasukan laut harus berhadapan dengan pelaut Genoa pimpinan Giustiniani dan dari arah timur armada laut harus masuk ke selat sempit Golden Horn yang sudah dilindungi dengan rantai besar hingga kapal perang ukuran kecil pun tak bisa lewat.
Berhari-hari hingga berminggu-minggu benteng Konstantinople atau Byzantium tak bisa jebol, kalaupun runtuh membuat celah pasukan Constantine mampu mempertahankan celah tersebut dan dengan cepat menumpuk kembali hingga tertutup. Usaha lain pun dicoba dengan menggali terowongan di bawah benteng, cukup menimbulkan kepanikan kota, namun juga gagal. Hingga akhirnya sebuah ide yang terdengar bodoh dilakukan hanya dalam semalam. Salah satu pertahanan yang agak lemah adalah melalui selat Golden Horn yang sudah dirantai. Ide tersebut akhirnya dilakukan, yaitu memindahkan kapal-kapal melalui darat untuk menghindari rantai penghalang, hanya dalam semalam dan 70-an kapal bisa memasuki wilayah selat Golden Horn.
29 Mei, setelah sehari istirahat perang Muhammad II kembali menyerang total, diiringi hujan dengan tiga lapis pasukan, irregular di lapis pertama, Anatolian Army di lapis kedua dan terakhir pasukan Yanisari. Giustiniani sudah menyarankan Constantine untuk mundur atau menyerah tapi Constantine tetap konsisten hingga gugur di peperangan. Kabarnya Constantine melepas baju perang kerajaannya dan bertempur bersama pasukan biasa hingga tak pernah ditemukan jasadnya. Giustiniani sendiri meninggalkan kota dengan pasukan Genoa-nya. Kardinal Isidor sendiri lolos dengan menyamar sebagai budak melalui Galata, dan Pangeran Orkhan gugur di peperangan.
Konstantinopel telah jatuh, penduduk kota berbondong-bondong berkumpul di Hagia Sophia, dan Sultan Muhammad II memberi perlindungan kepada semua penduduk, siapapun, baik Islam, Yahudi ataupun Kristen. Hagia Sophia pun akhirnya dijadikan masjid dan gereja-gereja lain tetap sebagaimana fungsinya bagi penganutnya.
Makanya karena prestasinya menaklukkan Konstantinopel, Muhammad II kemudian mendapat gelar “Al-Fatih”. Artinya Sang Pembebas”. Barangkali karena para pelaku sejarah sebelumnya tidak pernah berhasil melakukannya, meski telah dijanjikan nabi SAW.
Namun orang barat menyebutkan The Conqueror, artinya Sang Penakluk. Ada kesan bila menggunakan kata “Sang Penakluk” bahwa beliau seolah-olah penguasa yang keras dan kejam. Padahal gelar yang sebenarnya dalam bahasa arab adalah Al-Fatih. Berasal dari kata: fataha – yaftahu. Artinya membuka atau membebaskan. Kata ini terkesan lebih santun dan lebih beradab. Karena pada hakikatnya, yang beliau lakukan bukan sekedar penaklukan, melainkan pembebasan menuju kepada iman dan Islam.
istanbul-hagia-sophiaToleransi tetap ditegakkan, siapa pun boleh tinggal dan mencari nafkah di kota tersebut. Sultan kemudian membangun kembali kota, membangun sekolah –terutama sekolah untuk kepentingan administratif kota– secara gratis, siapa pun boleh belajar, tak ada perbedaan terhadap agama, membangun pasar, membangun perumahan, bahkan rumah diberikan gratis kepada para pendatang yang bersedia tinggal dan mencari nafkah di reruntuhan kota Konstantinople atau Byzantium tersebut. Hingga akhirnya kota tersebut diubah menjadi nama Islambul yang berarti “Kota Islam”. Tapi kini nama tersebut telah diganti oleh Mustafa Kemal menjadi Istanbul. Dan pencarian makam Abu Ayyub sahabat Nabi dilakukan hingga ditemukan dan dilestarikan.
Dan kini Hagia Sophia yang megah berubah fungsi menjadi museum. Jika sahabat semua berkesempatan ke Turki singgahlah kesini.
*Referensi dari berbagai sumber