Sabtu, 14 September 2013

Mendikbud: Ada Tiga Sasaran Pendirian Akademi Komunitas

Mendikbud: Ada Tiga Sasaran Pendirian Akademi Komunitas
Oleh Didi Rustam

JAKARTA, (PRLM).- Pendirian Akademi Komunitas (AK) yang sedang digarap oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan merupakan perluasan dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Keberadaan SMK sebagai pendidikan vokasi akan didorong dengan AK. AK nantinya juga akan saling melengkapi dengan politeknik. “Ada tiga sasaran pendirian AK. Pertama, AK bertujuan untuk meningkatkan kualitas ketenagakerjaan. Salah satu kriteria wilayah pendirian AK adalah kantong-kantong penyedia tenaga kerja Indonesia. Misalkan Indramayu, Tasikmalaya,” tutur Mendikbud Mohammad Nuh di Jakarta, Sabtu (25/8/12).

Kedua, daerah-daerah yang memiliki sumber daya alam yang melimpah tapi belum dikelola dengan baik. Melalui AK, masyarakat setempat akan memiliki daya jual dan daya saing yang lebih tinggi. Sehingga jika di lingkungan tersebut ada pabrik atau perusahaan, masyarakat di sekitar AK bisa dilibatkan.

Dan ketiga, kata Nuh, AK adalah satu kesatuan dengan Masterplan Percepatan & Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia ( MP3EI). Pendirian AK memerlukan investasi yang besar baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

“Pekerjaan ini tidak mudah. Namun selama dananya tersedia, pasti jadi,” jelas Mendikbud.(kominfo/A-108)***

Sumber: Pikiran Rakyat
http://akademikomunitas.com/52.html
Sumber: DIKTI
Berita Lengkap: http://www.dikti.go.id/?p=5270&lang=id

Akademi Komunitas, Alternatif Pendidikan Kaum Muda di Daerah

Akademi Komunitas, Alternatif Pendidikan Kaum Muda di Daerah

Sebagai awal pemerintah rencananya mendirikan 20 AK percontohan di beberapa kota. Namun di satu sisi, rencana ini juga banyak dipertanyakan. Mulai 2012, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan merintis pendirian Akademi Komunitas (AK) di daerah-daerah, untuk pengembangan di jalur pendidikan vokasi atau kejuruan.

Sebagai awal, pada tahun ini pemerintah rencananya mendirikan 20 AK percontohan di beberapa kota. Diharapkan nantinya AK ada di setiap kota/kabupaten secara bertahap membuka jenjang program setingkat diploma satu dan dua.

Mendikbud M. Nuh menyatakan, daerah yang menjadi lokasi berdirinya AK dipilih berdasarkan empat parameter atau kriteria. Pertama, pertimbangan wilayah dengan populasi penduduk tinggi. Hal tersebut ditujukan untuk menghindari pertumbuhan pengangguran muda. "Jika para pemuda memiliki keterampilan, maka mereka akan jadi sumber tenaga kerja," katanya, pada Senin (27/8).

Kedua, AK akan dibangun terutama di kantong-kantong penyedia tenaga kerja yang biasanya mencari pekerjaan di luar negeri (TKI). Ketiga, di wilayah yang sumber daya alamnya belum dikelola dengan baik misalnya daerah pesisir dan perbatasan.

Kriteria terakhir, pendirian AK akan diintegrasikan dengan kebutuhan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Djoko Santoso menambah, tujuan pendirian AK juga untuk menekan kesenjangan di antara pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dengan masyarakat setempat. Pendirian AK disesuaikan dengan kebutuhan wilayah, seperti program studi agro, otomotif, atau perhotelan.

Pengamat pendidikan Darmaningtyas mengatakan, AK perlu diapresiasi. "Lembaga pendidikan ini baik untuk pengembangan pendidikan dalam negeri. Dengan pola pengajaran pelatihan, tapi dengan biaya lebih terjangkau. Dan akan ada di setiap daerah," tuturnya.

Dipertanyakan

Namun, inisiasi Kemdikbud yang praktis memperluas akses pendidikan tinggi ini ditanggapi beberapa pihak secara negatif. Tidak sedikit tokoh pendidikan Indonesia menilai, keberadaan AK malah mengancam perguruan tinggi. Kemudian istilah akademi pun dipertanyakan karena tidak pas dengan pendidikan yang sifatnya vokasional.

"Istilah 'akademi' ini rancu dengan institusi pendidikan yang telah ada. Juga tidak ada dalam UU Sistem Pendidikan Nasional," kata HAR Tilaar, guru besar emeritus Universitas Negeri Jakarta.

Sedangkan Direktur Eksekutif Institute for Education Reform di Universitas Paramadina Mohammad Abduhzen mengatakan, akan lebih baik apabila AK diganti menjadi kursus yang diformalkan atau balai latihan kerja seperti sudah ada selama ini.

"Jika tujuannya untuk menyerap lulusan yang tak dapat melanjutkan ke S1, bisa juga memodifikasi politeknik yang sudah ada. Tak perlu membuat institusi pendidikan baru," ujar Abduhzen. (Gloria Samantha. Sumber: KOMPAS)

Sumber: National Geographic / Kompas.Com
Berita Lengkap: http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/08/akademi-komunitas -alternatif-pendidikan-kaum-muda-di-daerah